Sexploitation

 Dengan mata yang masih berat Fanny meraba-raba ke arah meja kecil yang berada di samping ranjang. Masih dengan setengah sadar ia berusaha mencari ponselnya yang terus saja berbunyi dan mungkin sudah dari tadi berbunyi. Sumber suara tersebut terdengar dari bawah ranjang. Cukup lama juga Fanny meraba-raba kolong ranjang untuk mencari ponselnya. Akhirnya dalam keadaan mata masih setengah terpejam Fanny berhasil menemukannya.

“Halo…”, sahut Fanny dengan suara serak.

“Pagi sayang, lagi ngapain nih?”

“Sapa neh?”, Fanny mengusap-usap matanya berusaha meningkatkan kesadarannya. Sekilas ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi lebih.

“Ini Pak Dahlan”.

Fanny langsung mendadak tersadar dari kantuknya mendengar nama tersebut. “Busyet pagi bener ni bandot tua nelponin gue!”, pikir Fanny dalam hatinya.

“Fan? Kamu masih disana?”.

“Eh iya Pak masih, ada apa ya Pak?”, Fanny mengusap-usap wajahya dan rambutnya yang saat ini terlihat dalam keadaan berantakan bukan main.

Sebenarnya tanpa bertanya pun Fanny sudah cukup hapal betul dengan kebiasaan dosennya yang satu ini. Setiap menelpon dosen yang dijulukinya bandot tua ini pasti tidak akan jauh-jauh dari masalah seks. Namun seingatnya baru dua hari yang lalu ia dari rumah Pak Dahlan untuk memberikan jatah syahwat, bahkan Thalib si pembantu dan Bakir si tukang gas ikut ketiban rejeki menikmati tubuhnya (baca Nightmare Sidestory: Waitting Time). Fanny merasa di hari tersebut ia sudah cukup memberikan pelayanan ekstra kepada si bandot tua, sampai-sampai ia harus menginap di rumahnya. Lalu apa kali ini dia menelpon untuk minta jatah lagi? Pagi-pagi begini? Dasar maniak pikir Fanny dalam hati.

“Baru bangun ya say? Sory nih ganggu tidur kamu, tapi Bapak ada perlu nih sama kamu hahaha…”

Oh Fanny paling benci mendengar suara tawa bantot tua ini, apalagi dengan gayanya yang sok basa-basi mesra toh ujung-ujungnya Fanny juga sudah tahu arah semua pembicaraan ini.

“Memang ada perlu apa sih Pak pagi-pagi gini?”

“Pagi? Ini kayaknya sudah siang kali non hahaha…”

“Suka-suka saya dong Pak mau bangun jam berapa, lagian hari ini saya kan kuliah sore”, sahut Fanny sewot.

“Jangan ngambek gitu dong sayang hahaha…”, rupanya Pak Dahlan bisa mendengar nada kesal yang terdengar dari suara Fanny. “Oya… Ngomong-ngomong soal kuliah, hari ini sepulang kuliah nanti kamu ada acara nggak?”

“Hhhmm..”, Fanny berusaha mengingat-ingat jadwal kegiatan dan janji-janjinya hari ini, “Kayaknya sih nggak Pak, memang kenapa?”

“Kalo kamu nggak acara, malam nanti setelah jam kuliah selesai kamu mampir ke kantor Bapak ya, ada yang Bapak mau bicarakan”

Mendengar permintaan Pak Dahlan, kecurigaan Fanny pun semakin terbukti. Bandot tua ini pasti minta upeti syahwat lagi. Rasa kesal pun kembali muncul di dalam hatinya, tapi mau tidak mau ia tahu kalau ia harus tetap menuruti kemauan Pak Dahlan selama nilai ujian mata kuliahnya belum secara resmi diumumkan. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana besok ia harus bekerja ekstra lagi untuk melayani nafsu bejat sang dosen. Pak Dahlan benar-benar memanfaatkan posisi Fanny yang terjepit. Bandot tua ini seakan-akan tahu kalau waktunya untuk mengeksploitasi tubuh Fanny hanya tersisa beberapa hari lagi sebelum nilai ujian harus disetorkannya ke Fakultas.

Gadis cantik itu menyadari benar posisinya saat ini. Sampai beberapa hari kedepan, ia tidak boleh sampai membuat Pak Dahlan berubah pikiran dan merubah nilainya. Jika itu sampai terjadi maka rugilah segala usaha yang ia lakukan selama ini demi memperoleh nilai yang bagus. Maka dari itu secara tidak langsung apa yang dikatakan Pak Dahlan saat ini adalah ibarat perintah bagi dirinya.

Lama tak ada jawaban dari lawan bicaranya kembali Pak Dahlan bertanya, “Gimana? Bisa?”

Sebenarnya Fanny ingin sekali untuk menjawab “tidak bisa”, karena jika benar harus melayani dosennya ini di kampus berarti ia akan tersiksa untuk menahan diri tidak berteriak terlalu kencang ditambah rasa was-was sepanjang permainan seandainya ada orang yang lewat di depan kantor Pak Dahlan saat itu. Ia sudah hapal betul dengan gaya permainan dosennya ini yang cenderung menghujami vaginanya dengan bertubi-tubi. Tentunya wanita mana yang bisa menahan diri untuk tidak berteriak jika vaginanya dihujami benda sebesar batang penis Pak Dahlan. Tapi bertemu dengan Pak Dahlan di kantor masih jauh lebih baik daripada harus bertemu di rumahnya. Jika di kantor mungkin ia hanya harus melayani satu penis, sedangkan di rumah bandot tua itu berarti ia harus sudah siap melayani satu penis lagi atau bahkan mungkin beberapa penis lainnya. Fanny pun kembali bergidik ketika mengingat kejadian bersama Thalib dan Bakir yang dialaminya di rumah Pak Dahlan beberapa hari yang lalu.

“Fan…?”.

“Eh iya Pak”, Fanny tersentak dari lamunannya.

“Gimana? Bisa?”.

“Bis… bisa kok Pak”.

“Ok deh, kalo gitu saya tunggu di kantor ya sayang hahaha…”, kembali Fanny harus mendengar suara tawa yang dibencinya itu.

Tawa yang terdengar penuh kekuasaan atas dirinya. Fanny pun akhirnya kembali hanya bisa berkata “iya” dan “bisa” lagi dengan perasaan penuh kedongkolan. Pembicaraan pun berakhir dan kini Fanny meletakkan ponselnya di meja di dekat ranjang. Berbicara dengan dosennya ini benar-benar membuat kesal. Kantuk yang semula menguasainya kini telah raib entah kemana. Padahal ia ingat betul kalau kemarin ia tidur sangat larut atau lebih tepatnya menjelang pagi. Kalau saja orang-orang bisa melihat kusutnya wajah Fanny pagi itu, maka akan mengerti bagaimana kesalnya ia ketika saat waktu tidurnya yang berharga harus terganggu pagi-pagi begini. Apalagi ditambah kemudian dengan si pengganggu adalah seorang bandot tua berotak mesum.

“Siapa nelpon pagi-pagi gini honey?”, sebuah pelukan hangat merangkul tubuh Fanny dari belakang.

Fanny segara berusaha merubah ekspresi wajah kesalnya dan menggantinya dengan sunggingan senyum. Kemudian ia pun membalikkan tubuhnya dan terlihatlah wajah seorang pria yang terbaring disebelahnya. Pria itu adalah Rendi pacarnya. Karena kejadian dua hari yang lalu, Fanny membuat pacarnya ini kesal karena hari itu menurut Rendi adalah hari istimewa baginya. Hari itu adalah tepat sebulan mereka pacaran sehingga Rendi ingin mengajak Fanny merayakannya dan mengajak nonton bioskop. Bagi Fanny yang sudah terbiasa untuk gonta-ganti pacar sebulan tentunya bukanlah waktu yang special, apalagi Rendi baginya hanyalah sebagai pengisi waktu kosongnya setelah putus dari pacarnya yang lain setahun yang lalu. Belum ada keseriusan dalam diri Fanny menjalani hubungan dengan Rendi, namun di lain pihak tentunya hal ini berbeda dengan Rendi. Memiliki pacar secantik Fanny adalah anugrah yang tak terkira bagi Rendi. Hampir pada setiap kesempatan ia selalu memamerkan Fanny kepada teman-temannya.

Rendi sama sekali tidak tahu kalau selama ini tidak hanya dirinya yang menikmati kecantikan dan kehangatan tubuh Fanny. Banyak lelaki yang sudah merasakan kehangatan tubuh sintal pacarnya itu, bahkan dia antara mereka ada yang sampai harus menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk sekedar menghabiskan waktu beberapa jam di atas ranjang bersama Fanny. Namun pada beberapa kesempatan tidak jarang pula ada juga lelaki yang sangat beruntung bisa menikmati tubuh itu secara gratis. Semua itu terasa tidak penting saat ini bagi Rendi, yang penting baginya kini adalah saat ini ia kini boleh berbangga hati karena masuk dalam daftar lelaki yang telah dapat menikmati kehangatan tubuh Fanny.

“Temen kok, minta dibawain catetannya yang gue pinjem”.

“Temen cewek atau cowok?”, Rendi memasang wajah cemburu.

“Ih kok cemburu gitu sih Di, emang nggak cukup yang kemarin?”.

Fanny berpura-pura bergelayut manja di pundak sang kekasih, seakan mencoba menenangkan kekasihnya. Ia sadar betul kalau pacarnya ini masih sangat hijau dalam bidang percintaan sehingga kadang membuat Fanny merasa tak lebih menjadi seorang baby sitter bagi Rendi. Namun semua itu seakan tidak menjadi masalah bagi gadis cantik ini karena gelontoran dana yang tidak terbatas dari Rendi membuat Fanny mengenyampingkan kepuasan lahir batinnya.

“Cukup kok, malah lebih dari cukup hehe…”.

“Kalo gitu jangan cemberut lagi dong”, sebuah kecupan kecil mendarat di bibir Rendi.

Rendi pun tersenyum mendapatkan perlakuan manja dari kekasihnya.

“Nah, gitu dong”, Fanny pun tersenyum.

Kemudian Rendidengan lembut memeluk tubuh Fanny, seakan kemarin malam laki-laki muda ini sama sekali belum puas menikmati kehangatannya. Dan tak lama seperti layaknya lelaki pada umumnya yang disajikan keindahan tubuh seorang wanita cantik, tangan Rendi pun mulai nakal meraba dan meremasi sekujur tubuh Fanny. Sedangkan si “korban” hanya bisa mendesah tanpa ada sedikitpun penolakan. Di balik selimut itu sudah dapat dipastikan kedua manusia berlainan jenis ini pastilah tidak berbalut busana lagi, karena pakaian mereka seluruhnya nampak berserakan tidak beraturan di bawah ranjang. Kemarin malam adalah pertama kalinya Rendi menikmati tubuh sang kekasih. Sebenarnya bukan ciri khas Fanny untuk menyerahkan dirinya sebelum minimal tiga bulan menjalani masa pacaran, namun karena Rendi begitu royal menghambur-hamburkan uangnya untuk dirinya selama beberapa bulan ini membuatnya memenuhi permintaan sang kekasih untuk menikmati tubuhnya. Memang mereka baru sebulan ini resmi berpacaran, tetapi sejak beberapa bulan masa PDKT Rendi sudah menanggung semua pengeluaran Fanny, dari uang kontrakan, uang kuliah, uang pulsa, service mobil sampai pakaian dan biaya salon.

Hal ini pun akhirnya membuat beberapa bulan ini Fanny sama sekali tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membiaya pengeluaran bulanannya. Karena hal ini pula membuat Fanny hampir beberapa bulan ini dapat beristirahat untuk menjual tubuhnya kepada lelaki-lelaki mata keranjang untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Ini tentunya dikecualikan untuk kejadian dua hari yang lalu ketika dia melayani Pak Dahlan demi nilainya. Ketika kemarin Rendi mengajak dirinya menginap di rumahnya dengan alasan semua keluarganya sedang berlibur ke luar negeri, Fanny sama sekali tidak menolak. Ia mencoba menuruti permintaan  kekasihnya ini sebagai cara untuk membayar hari “special” yang tidak bisa dihadirinya. Sebagai wanita yang telah memiliki jam terbang yang tinggi dalam menghadapi gaya-gaya pacaran lelaki, Fanny sadar malam itu pasti akan berakhir di ranjang. Apalagi sejak dalam bioskop, bibir, dada dan selangkangannya tidak pernah lepas dari sentuhan  Rendi.

Sehingga ketika Rendi dengan gaya malu-malu memintanya untuk bercinta Fanny sama sekali tidak terkejut. Bahkan malam itu di ranjang justru Fanny yang memegang kendali penuh karena sang kekasih ternyata seorang perjaka yang sama sekali buta soal masalah bercinta. Dengan jam terbang yang minim Rendi termasuk cukup kuat bermain sampai tiga ronde. Namun bagi Fanny, tiga ronde itu benar-benar terasa hambar karena dilewati tanpa sama sekali mencapai puncak orgasme. Berbeda sekali ketika ia harus melayani Pak Dahlan atau Imron. Mereka berdua walaupun menyebalkan namun mampu membuat dirinya berteriak-teriak minta ampun dan mencapai klimaks sampai berkali-kali dalam sekali permainan.

“Say… pengen lagi nih!”.

“Aduh capek nih Di, kemarin kan udah ampe 3 kali?”.

“Ayo dong, sekali lagi deh sebelum gue anter lu pulang”.

“Dasar pemula!”, runtuk Fanny dalam hati. Ia tahu walaupun ia memberikan jatah sekali lagi kepada Rendi, maka tetap saja Rendi sama sekali tidak akan dapat memberikannya kepuasan. Jadi buat apa dia musti bercapek-capek lagi. Namun melihat sang kekasih yang terus memelas dan melihat batang penis Rendi sudah tegak berdiri kembali, akhirnya Fanny mengalah.

“Tapi cuma sekali lagi, terus lu anter gue pulang, soalnya ntar siang gue ada acara sebelum ke kampus”.

“Ok deh say…”.

Fanny pun mengambil posisi bersandar di ujung ranjang. Setelah mendapatkan posisi yang enak kemudian dengan mantap membuka kedua kakinya lebar-lebar untuk memberikan akses penuh kepada batang penis sang kekasih. Untuk menggoda birahi Rendi, Fanny dengan sengaja membasahi ujung jari-jari tangan kanannya kemudian berlahan mengusap-usap permukaan vaginanya yang berbulu tipis itu. Melihat pemandangan menantang tersebut, Rendi dengan cepat merangkang mendekati Fanny. Ia lalu mencium bibir Fanny dan mengulumnya untuk beberapa lama.

“Langsung dimasukin ya say”, ucap Fanny begitu bibir Rendi terlepas dari bibirnya.

Rendi mengangguk.

Dan tidak perlu waktu lama bagi Rendi untuk kembali berhasil menghujam-hujamkan penisnya ke vagina Fanny. Fanny sendiri hanya pasrah sambil sesekali mendesah ketika Rendi menghujamkan penisnya agak keras. Namun bagi Fanny dibandingkan penis-penis yang pernah mengisi liang vaginanya, penis Rendi termasuk berukuran standar sehingga ia tidak menemukan sensasi yang berbeda dalam bercinta. Semua ini terasa hanya sebagai ritual biasa baginya. Membiarkan sang lelaki merasa berkuasa atas dirinya, kemudian diakhir memberikan teriakan kepuasan agar sang lelaki merasa jantan karena bisa menaklukkan lawan mainnya. Sebuah sandiwara yang biasa ia lakoni hampir setiap kali mengalami persetubuhan yang mengecewakan. Benar saja… ketika Fanny sama sekali belum “berkeringat” Rendi sudah menghentikan hujamannya, mencabut batang penisnya dan diakhiri dengan  semprotan sperma yang membasahi dada  dan sedikit wajah Fanny. Rendi pun ambruk di atas tubuh Fanny dengan nafas masih memburu.

Fanny lalu mengusap-usap lembut kepala Rendi yang kini tepat berada dibelahan dadanya yang membulat padat sempurna. Kemudian direbahkannya tubuh Rendi ke samping dan ia pun beranjak bangun dari ranjang. Dibiarkannya Rendi yang masih nampak menikmati sensasi kepuasannya. Fanny pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Saat ini ia hanya ingin segera membersihkan dirinya, kembali ke rumah dan melanjutkan tidurnya. Ia tahu malam nanti ia akan bertemu dengan si bantot tua Dahlan, dan bertemu dengan dosennya ini maka sudah pasti ia akan memerlukan tenaga ekstra.

************************

SCENE 2 : Shocking Job

Hari Pertama.

Kampus Teknik Arsitektur. Pukul : 20.45

Seperti biasa waktu perkuliahan adalah waktu yang sangat membosankan bagi Fanny. Ia harus duduk tenang, mendengarkan suara dosen memberikan materi sambil terus berpura-pura mencatat. Dua jam di kelas terasa bagaikan dua hari baginya. Apalagi materi yang disampaikan cenderung tidak mengasyikkan bagi Fanny ditambah lagi di kampus memang Fanny memang tergolong mahasiswi yang cuek dan jarang bergaul dengan teman-temannya. Ia lebih memilih langsung pulang begitu jam kuliah berakhir, dibandingkan harus nongkrong di kampus untuk sekedar berbasa-basi ria. Dahulu sebenarnya ia memiliki beberapa teman di kampus, namun karena mulai terdengar gosip-gosip kalau ia adalah mahasiswa bispak, teman-temannya ini mulai mundur teratur dari kehidupan Fanny. Inilah yang membuat Fanny agak malas jika harus menjalani kegiatan belajar di kampus. Ia mencoba bertahan karena desakan orang tuanya yang menginginkan anaknya ini menjadi seorang sarjana. Paling tidak hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membuat orang tuanya bahagia. Akhirnya jam kuliah berakhir. Semua mahasiswa berhamburan keluar kelas, karena memang jam sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih. Begitu juga dengan Fanny.

Begitu selesai memasukkan buku catatannya ke dalam tas jinjingnya, ia pun segera keluar dari kelas. Hari ini dosen mata kuliah memberikan materi ekstra karena minggu depan UAS sudah akan dimulai. Pelajaran tambahan ini membuat kelas Fanny menjadi kelas terakhir yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar, sedangkan kelas-kelas lain sudah nampak kosong. Suasana kampus sudah begitu lengang, hanya terlihat beberapa aktifis kampus yang masih nampak kumpul-kumpul di beberapa sudut kampus. Fanny memberikan senyuman kecil ketika beberapa mahasiswa yang ia lewati melempar senyuman kearahnya. Fanny mencoba ramah walaupun sebenarnya ia tidak tahu nama mereka sama sekali. Gadis cantik itu kini nampak berjalan menyusuri lorong kampus yang menghubungkan ruang kuliah Teknik Arsitektur dengan ruangan dosen dan ruang Ketua Jurusan Arsitektur, yang juga merupakan ruangan Pak Dahlan. Lorong itu sudah nampak gelap, hanya beberapa lampu yang masih dibiarkan menyala. Begitu juga dengan ruang dosen yang sudah tidak menampakkan tanda-tanda aktifitas di dalamnya. Kalau saja Fanny boleh memilih mungkin ia akan memilih pulang ke rumahnya saat ini juga dan tidur sepuas-puasnya. Saat ini tubuhnya masih terasa begitu lelah dan letih. Bagaimana tidak, dua hari yang lalu ia harus bekerja keras melayani nafsu 3 orang lelaki buas sampai siang hari, kemudian tanpa sempat berisitirahat Rendi menjemputnya dan kembali mengekploitasi tubuhnya habis-habisan sampai saat ia mengantarnya pulang kembali.

Fanny bahkan masih bisa merasakan perih di selangkangannya sampai saat ini. Kalau saja benar Pak Dahlan memang benar meminta jatah syahwat malam ini, Fanny tahu ia sama sekali tidak akan bisa menolak. Ia hanya bisa berharap tidak sampai pingsan di ruangan dosen cabul tersebut. Maka dari itu ia segera mempercepat langkah kakinya. Selain ia merasa merinding berada sendirian diantara kegelapan, ia juga ingin agar semuanya ini cepat selesai dan bisa pulang ke rumah secepatnya. Fanny terus melangkahkan kakinya sampai akhirnya dari kejauhan ia bisa melihat sebuah ruangan yang lampunya masih nampak menyala. Ruangan itu adalah ruangan Pak Dahlan. Rupanya dia memang masih berada di dalam pikir Fanny. Ketika ia hendak kembali melangkah, tiba-tiba sebuah tepukan di bahu Fanny mengejutkan dirinya setengah mati.

“Aakh…!”, Fanny terhuyung karena terkejut. Jika saja tubuhnya tidak segera didekap mungkin ia akan terjatuh dengan keras.

“Malem-malem kok masih berkeliaran di kampus sih Non hehehe?”, rupanya yang mendekapnya adalah sosok seorang lelaki.

Fanny segera meronta untuk melepaskan bekapan tersebut. Ia kemudian mundur beberapa langkah dari sosok laki-laki tersebut. Masih dalam keadaan terkejut, samar-samar gadis cantik itu berusaha melihat wajah dari sosok lelaki tersebut. Ternyata sosok lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Imron, sang penjaga kampus.

“Aduh bikin kaget aja sih Pak! Kalau saya jantungan bisa mati tau nggak!”, bentak Fanny.

“Hehehe maaf Non, lagian Non juga malem-malem gini masih keluyuran aja”.

Fanny sebetulnya sama sekali tidak mengharapkan bertemu dengan Imron dalam suasana seperti ini. Masih segar dalam ingatannya bagaimana Imron dengan seenaknya masuk ke dalam ruangan Pak Dahlan ketika ia sedang memberikan jatah syahwat kepada dosennya itu. Dan Fanny juga masih ingat bagaimana Pak Dahlan juga dengan seenaknya menyerahkan dirinya untuk disetubuhi penjaga sekolah mesum ini sebagai imbalan tutup mulut (baca Nightmare Campus 5: The Illicit Conspiracy). Tak pernah ada lelaki yang begitu merendahkannya selain sosok lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya. Namun di antara perasaan bencinya, jauh dalam hati Fanny ia juga menaruh kekaguman besar terhadap sosok Imron. Harus diakuinya diantara laki-laki yang pernah menyetubuhinya, memang hanya Imron yang selalu bisa membangkitkan gairah nafsu terliarnya. Baik dari ukuran penis maupun gaya permainan, selama petualangan cintanya, Fanny belum pernah sekalipun menemukan lelaki yang mampu memandingi Imron.

Pertama kali Imron menyetubuhinya saja, Imron sudah mampu membuat dirinya mencapai klimaks berkali-kali hanya dalam waktu dua jam persetubuhan. Sebenarnya ia sudah beberapa kali disetubuhi oleh si penjaga sekolah, bahkan sering kali melakukan threesome dengan tambahan Pak Dahlan, namun tetap saja Fanny ia tidak bisa mengingkari kalau ia selalu mendapatkan sensasi baru nan berbeda setiap kali beradu gairah dengan Imron. Di tengah kekagumannya itu tetap saja Fanny sadar tidak boleh sampai bersikap terlalu gampangan dihadapan lelaki yang jelas-jelas status sosialnya jauh berada dibawahnya ini. Cara kehadiran Imron yang tiba-tiba dihadapannya benar-benar membuat Fanny kesal. Apalagi melihat senyum cengengesan dan tatapan yang ditampilkan dari wajah mesumnya. Sebuah tatapan yang selalu membuat Fanny merasa bagaikan sebagai sebuah makanan lezat yang terhidang diatas meja dan siap untuk disantap. Nafas Fanny yang masih terlihat naik turun tidak beraturan memperlihatkan bagaimana dasyatnya ia terkejut tadi.

“Memang ada urusan apa malem-malem gini Non?”

“Saya ada janji dengan Pak Dahlan!”, sahut Fanny ketus.

“Oh… ternyata mau ngentot ya Non? “

Fanny benar-benar kesal dengan pemilihan kata yang digunakan Imron. Ia merasa begitu rendah dengan sindiran tersebut. Seolah-olah dirinya tak lebih dari sebuah benda yang tak bernilai, yang dapat digunakan kapan saja dan dimana saja.

“Eh! Jangan kurang ajar gitu dong ngomongnya Pak!”.

“Nggak usah sok marah gitu dong Non, lagian Pak Dahlan punya urusan apalagi sih kalo nggak urusan ngentot ama Non?”

“Apaan sih Pak…!”, Fanny hanya menjawab singkat, walaupun kata-kata Imron ada benarnya, namun ia tak mau lama-lama melayani kata-kata si penjaga kampus mesum ini karena hanya akan menambah kedongkolan hatinya.

“Syukur saya baru saja melemaskan “burung” bareng Non Ivana di kampus sebelah, kalau nggak bisa-bisa malem ni Non bakal dikeroyok lagi hehehehe…”.

“Ivana?”.

Fanny cukup kenal dengan nama yang disebutkan Imron tadi. Ivana adalah anak dari Pak Heryawan, Dekan Fakultas Sastra (baca Nightmare Campus 6: For My Father Only). Fanny tahu benar kalau gadis itu adalah tipe gadis baik-baik yang tidak mungkin bisa berurusan dengan bajingan tengik macam Imron. Tapi ia juga tahu Imron tidak mungkin menyebut nama itu secara kebetulan. Apakah gadis polos dan lugu itu kini sudah senasib dengan dirinya yang menjadi budak seks di kampus ini? Kalau itu benar maka hal ini benar-benar akan mengejutkan baginya, seperti mendengar sebuah petir di siang bolong.

“Iya, Non Ivana anak Pak Heryawan hahaha…”, Fanny pun kini benar-benar terkejut mendengar kenyataan ini. “Nggak usah kaget kayak gitu Non, Non Ivana sekarang juga sudah jadi budak seks Bapak, malahan waktu Bapak dapetin masih perawan lo hahaha…”.

“Ih, apa peduli saya?”, Fanny berusaha menutupi rasa keterkejutannya dengan berpura-pura tidak peduli, walaupun dalam hati ia sedikit menaruh rasa prihatin atas nasib Ivana. “Udah ah!”, Fanny pun membalikkan badannya hendak beranjak pergi. Namun ketika Fanny hendak melangkahkan kaki dan beranjak pergi, tiba-tiba ia merasakan sebuah remasan kuat pada pantatnya. Fanny hanya bisa tersentak. Tak lama kembali terdengar tawa cengengesan khas Imron.

“Met ngentot ya Non… hahaha…”, belum sempat Fanny protes atas kata-kata dan perbuatan Imron meremas pantatnya, penjaga kampus mesum itu sudah ngeloyor pergi dengan mendendangkan siulan menandakan sebuah kepuasan. Fanny pun hanya bisa menghela nafas panjang mencoba menahan kekesalannya, karena saat ini ia sendiri masih memiliki urusan yang belum selesai.

******

Di depan pintu ruangan Pak Dahlan Fanny nampak berhenti sejenak. Dari firasatnya ia tahu dibalik pintu ini telah menanti sesuatu yang mungkin sama sekali tidak akan ia duga sebelumnya. Fanny sampai harus menghela nafas panjang beberapa kali, sebelum akhirnya mampu mengetuk pintu tersebut.

“Masuk!”, suara Pak Dahlan terdengar dari balik pintu.

Fanny membuka pintu dan Pak Dahlan nampak menyambut dirinya dengan senyuman dari belakang meja kerjanya.

“Malem Fan, lama juga lo Bapak nunggu kamu Bapak kira kamu lupa, baru saja Bapak mau menghubungi kamu lagi”. Pak Dahlan nampak sibuk dengan beberapa dokumen-dokumen di atas mejanya.

“Maaf Pak, tadi ada mata kuliah tambahan dari Bu Hanna, jadi keluar kelasnya sedikit molor”.

“Udah nggak apa-apa, yang penting kamu sudah datang, ayo duduk”.

Fanny pun menggeser kursi di hadapannya kemudian berlahan duduk diatasnya. Ia meletakkan tas jinjingnya di kursi sebelah. Fanny memang membenci dosennya yang satu ini atas perbuatannya mengeklpoitasi dirinya, namun satu hal yang cukup membuatnya kagum adalah walau sudah berkali-kali menyetubuhi dirinya namun Pak Dahlan masih saja masih bersikap sopan dan berwibawa ketika berhadapan dengan dirinya. Paling tidak ini membuat Fanny masih merasa dihargai sebagai wanita. Tentunya perlakuan seperti ini tak akan pernah ia dapatkan dari Imron dan laki-laki sejenis lainnya, yang merasa dapat bersikap seenak perut terhadap wanita yang dikuasainya. Perlakukan ini yang kadang membuat Fanny masih kerap merasa segan jika berhadapan dengan dosennya ini. Cukup lama ruangan sepi karena Pak Dahlan masih nampak sibuk menandatangani beberapa surat dan dokumen dihadapannya. Sedangkan Fanny hanya bisa terdiam dan mengharap-harap cemas.

“Eehem…”, suara batuk Pak Dahlan memecah kesunyian, kemudian ia merapikan berkas-berkas dalam map dan menumpuknya diatas meja menjadi satu, “Begini Fan…”.

Lelaki paruh baya itu lalu berdiri dari kursinya dan menghampiri Fanny.

Perlahan ia berjalan menuju kebelakang gadis tersebut, kemudian menyentuh rambut panjangnya dan mulai berlahan membelainya lembut. Kemudian belaian itu berubah menjadi pijatan lembut di pundak. Cukup lama Pak Dahlan meremas-remas pundak Fanny, sebelum dengan perlahan ia mengangkat wajah Fanny dan mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. Pak Dahlan mengulum bibir Fanny dengan penuh perasaan seolah-olah ia sudah lama sekali tidak merasakan kelembutan bibir tersebut. Fanny yang bingung harus melakukan apa hanya bisa membalas kuluman dosennya ini. Bahkan ketika lidah Pak Dahlan menerobos masuk ke dalam mulutnya, Fanny pun membalasnya sehingga mengakibatkan lidah mereka saling beradu. Tak cukup hanya memberikan Fanny frech kiss, tangan Pak Dahlan mulai bergerilya membuka tiga kancing teratas kemeja hijau corak kotak-kotak yang dikenakan Fanny. Bra hitam polos tanpa renda nampak mengintip diantara sela-sela kancing yang terlepas. Tiga kancing rupanya sudah cukup memberikan akses masuk tangan kanan Pak Dahlan menuju bukit kembar Fanny. Dengan hanya menggeser cup bra tersebut, kini bukit payudara kanan Fanny sudah sepenuhnya dalam remasan Pak Dahlan. Walau sedang berciuman Fanny tahu kalau saat ini bra yang ia kenakan sudah tidak pada posisinya yang benar.

Serangan terhadap daerah selangkangan pun tak luput dilakukan Pak Dahlan sambil tetap berciuman. Karena malam itu Fanny mengenakan jeans sehingga membuat akses tangan Pak Dahlan sedikit terbatas, namun cukup membuat si pemilik merinding merasakan remasan tersebut. Ketika gairah Fanny mulai naik justru tiba-tiba Pak Dahlan menghentikan segala aktifitasnya. Ini tentu membuat Fanny sedikit bingung. Pak Dahlan hanya tersenyum. Apakah  ia dapat melihat ekspresi kebingungan Fanny? Yang jelas kini ia kembali mengelus-elus rambut Fanny yang panjang dengan penuh perasaan.

“Sebenarnya Bapak mau minta tolong sama kamu”,

“Min.. minta tolong apa Pak?”, jawab Fanny masih penuh kebingungan.

Karena melihat Pak Dahlan mulai berbicara serius, Fanny mengambil kesempatan ini untuk merapikan kembali posisi bra yang berada di balik kemeja yang dikenakannya. Tentunya dalam keadaan serius seperti ini Fanny merasa kalau dadanya saat ini sudah tidak lagi menjadi fokus utama bagi Pak Dahlan.

“Besok pagi akan datang rombongan pejabat pemerintahan dari Dinas Pendidikan Nasional tingkat Pusat untuk melakukan inspeksi dan penilaian terhadap kampus kita ini selama tiga hari. Kunjungan ini sangatlah penting karena akan mempengaruhi akreditasi kampus kita”.

“Lalu apa hubungannya dengan saya?”, Fanny sama sekali tidak melihat adanya kaitan antara pembicaraan dosennya ini dengan dirinya.

“Begini… terkait dengan kedatangan rombongan tersebut Bapak minta kamu bisa ikut dengan Bapak untuk menemani mereka selama berkeliling memeriksa ruangan dan berkas-berkas yang perlu mereka periksa”.

“Oh… cuma itu aja Pak?”.

“Masalahnya bukan cuma itu Fan…”.

“Terus?”, dahi Fanny berkerut. Perasaannya mulai terasa tidak enak ketika melihat ekspresi wajah Pak Dahlan yang terlihat semakin serius.

“Pimpinan dari rombongan itu namanya Pak Sugeng. Dia minta kepada Bapak untuk diberikan pelayanan “ekstra” selama menjalankan tugasnya di kampus kita”.

“Pelayan ekstra? Maksud Bapak?”, perasaan Fanny semakin tidak enak.

“Karena ia tidak akan mengajak istrinya selama bertugas disini, maka dia minta disediakan “teman” selama dua malam menginap di hotel”.

Fanny sungguh tersentak mendengar kata-kata Pak Dahlan. Ia seakan sudah tahu kemana arah pembicaraan dosennya ini. Jika dugaannya benar maka yang dimaksud dengan “teman” disini tentu adalah dirinya. Fanny benar-benar tidak menyangka Pak Dahlan ini bisa seenaknya meminta dirinya melacur demi kepentingan pribadinya. Ia memang seorang ayam kampus, namun menjadi ayam kampus setidaknya ia dibayar atas jasanya, tidak gratis! Dan selama ini yang dia lakukan adalah demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bukan orang lain. Kini Pak Dahlan akan menjadikan dirinya upeti syahwat untuk seorang pejabat pemerintahan. Apa dosennya ini merasa tidak cukup menyerahkan tubuhnya untuk Imron dan Thalib secara gratis, hingga kini Pak Dahlan juga akan menyerahkan tubuhnya ini untuk seorang pejabat mesum? Lalu untuk siapa ia harus melakukan semua ini? Untuk Pak Dahlan? Untuk kampus ini? Atau untuk dirinya sendiri?

“Maaf Fan… Kamu pasti sudah mengerti dengan maksud Bapak memanggil kamu kesini, Bapak mengerti sangatlah keterlaluan meminta kamu untuk melakukannya, tapi kamu harus ingat juga kalau kamu masih memiliki keterikatan dengan kampus ini? Jika kamu menolak, terpaksa Bapak menggunakan cara-cara keras dengan tidak meluluskan permohonan ujian skripsimu atau menahan ijasah kamu”.

“Tapi Pak…!”.

“Bapak tahu kamu sudah melayani Bapak selama ini dengan sangat luar biasa, maka sesuai kesepakatan kita sebelumnya maka Bapak tetap akan mengantrol semua nilai-nilaimu yang jatuh dari semester I, sehingga kamu bisa menyelesaikan studimu di akhir tahun ini. Namun jika kamu menolak permintaan Bapak kali ini maka untuk kelulusanmu Bapak sendiri benar-benar tidak berani menjaminnya”.

Fanny hanya bisa menunduk tanpa berkata apapun. Ia tahu kata-kata Pak Dahlan memang benar, sebelum ia meninggalkan kampus ini dengan gelar sarjana maka Pak Dahlan memiliki kuasa penuh atas dirinya. Fanny sadar sebenarnya Pak Dahlan memintanya melakukan semua ini pasti demi kepentingan pribadinya, namun diluar itu semua ini juga untuk kepentingan dirinya sendiri. Mengingat nilai-nilainya yang selama ini sangatlah jauh dari memuaskan, ditambah ke depan ia juga harus memenuhi kewajiban untuk menyusun dan menjalani ujian skripsi, maka jelas kesemuanya ini tidak dapat ia lakukan tanpa bantuan Pak Dahlan. Sehingga saat ini menerima “tugas dinas” yang ditawarkan dosennya ini jelas adalah satu-satu jalan untuk bisa segera lulus dari kampus laknat ini.

Melihat Fanny yang terus tertunduk dan membisu Pak Dahlan kembali bertanya, “Gimana Fan? Bapak janji hanya untuk dua malam dan itu pun hanya akan kamu lakukan untuk beberapa jam saja tidak lebih, kamu mau?”.

Dengan berat hati Fanny pun mengangguk. Ia sesungguhnya sangat tidak menyukai berada dalam posisi seperti ini. Semua perasaan ini hanya membuatnya menjadi bertambah letih. Senyum tersungging dari bibir Pak Dahlan. Melihat Fanny yang begitu takluk di hadapannya membuat bandot tua ini merasa begitu berkuasa dan ia terlihat sangat menikmatinya.

“Kalau begitu kamu boleh pergi sekarang dan beristirahat, ingat besok pagi sebelum jam setengah delapan kamu sudah harus berada di ruangan ini lagi, hal-hal teknis akan Bapak jelaskan besok. Yang jelas besok kamu hanya perlu berdandan secantik mungkin”.

Fanny pun beranjak berdiri setelah mengambil tasnya. Ditemani Pak Dahlan ia pun berjalan gontai ke arah pintu. Pak Dahlan lalu membukakan pintu untuknya. Sebelum Fanny beranjak keluar dari ruangan tersebut, Pak Dahlan tiba-tiba menahannya. Kembali diangkatnya wajah Fanny yang semula tertunduk lesu dan kembali mendaratkan sebuah ciuman di bibir Fanny. Bahkan ciuman itu kini berlanjut menjadi sebuah lumatan yang dalam dengan diselingi beberapa kali permainan lidah.

Kali ini Fanny bersikap pasif. Ia sama sekali tak bernafsu melayani lumatan Pak Dahlan, ia hanya membiarkan Pak Dahlan memainkan bibir dan lidah di mulutnya. Rupanya Pak Dahlan menyadari kalau tidak ada respon dari lawan mainnya sehingga ciuman dan lumatan itu pun tidak berlangsung lama. Biasanya Pak Dahlan akan marah besar jika Fanny bersikap seperti ini, namun kali ini ia tahu kalau sedang memerlukan jasa gadis cantik tersebut, sehingga ia cukup tahu diri untuk tidak melampiaskan kekesalannya. Dua hari ke depan wanita cantik di depannya ini akan menjadi aset yang sangat berharga untuk dirinya, sehingga akan sangat riskan memaksakan kekuasaannya dengan kekerasan.

“Kamu cantik banget Fan!”, hanya itu yang keluar dari mulut Pak Dahlan begitu ia menyelesaikan lumatan bibirnya, “Sekarang kamu istirahat ya!”.

Fanny kembali hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Fanny lalu melangkah keluar dari ruangan. Dalam hati ia bersyukur malam ini ia tidak perlu harus bersetubuh dengan si bandot tua, namun di sisi lain ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari. Saat ini Fanny hanya ingin segera tidur dan berharap saat terbangun nanti semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Dengan langkah gontai ia pun menghilang ditengah kegelapan lorong kampus. Sedang Pak Dahlan sendiri nampak tersenyum-senyum di depan pintu ruangannya sambil mengawasi kepergian Fanny. Terlihat dari senyuman di wajahnya, mungkin saat ini bisa terlihat kalau di dalam otak jahatnya ia sedang membayangkan kenaikan jabatan yang akan  ia peroleh jika semua ini berjalan dengan lancar.

****************************

SCENE 3 : Morning Warming Up

Hari Kedua.

Kampus Teknik Arsitektur. Pukul : 07.20

Tak seperti pagi-pagi biasanya, Fanny sudah nampak cantik di dalam  mobil sedan KIA berwarna red wine miliknya. Biasanya kehidupan Fanny selalu berbanding terbalik dengan orang-orang pada umumnya. Ia akan tidur di pagi hari dan baru beraktifitas menjelang malam hari. Kehidupan Fanny memang identik dengan dunia malam. Dengan wajah indo bule, tinggi 167 cm, berat 49 kg dan berdada 34C, ditambah lekuk tubuh indah bak biola, ditunjang rambut sebahu berwarna kemerahan, serta kaki yang panjang dan mulus, menjadikan Fanny dalam waktu singkat menjelma menjadi seorang model yang cukup dikenal. Terkenal sebagai model rupanya tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan hidup Fanny. Inilah yang kemudian mendasari Fanny untuk mengambil profesi sampingan sebagai seorang wanita panggilan. Sebagai seorang model memudahkan akses Fanny untuk menjerat lelaki-lelaki hidung belang yang berduit. Malahan justru profesi sampingan inilah yang membuat Fanny mampu membeli segala yang dia mau, tentunya dengan resiko yang mengharuskan Fanny hidup dengan pola kehidupan terbalik seperti saat ini.

Beruntung sejak mengenal Rendi beberapa bulan ini ia bisa mengurangi sedikit aktifitas malamnya, sehingga paling tidak ia mulai bisa hidup dalam siklus hidup yang normal. Mobil Fanny kini sudah memasuki areal parkir kampus. Karena saat ini memang masih terlalu pagi untuk jadwal kegiatan kampus, sehingga Fanny dapat dengan mudah mencari parkiran untuk mobilnya. Disapunya pandangan matanya sekeliling areal parkir. Terlihat areal kampus begitu sepi, yang nampak hanyalah dua orang mahasiswa yang berjalan menuju gedung Fakultas Sastra. Mungkin saja mereka semalam menginap di kampus. Sebelum keluar ia memandangi wajahnya sejenak di kaca spion depan mobilnya. Sangat cantik! Wajah yang dikagumi oleh banyak lelaki. Walau tanpa make up yang tebal wajah itu selalu akan nampak cantik. Keluar dari mobil Fanny pun berjalan perlahan menuju gedung Fakultas Teknik. Sambil berjalan ia masih tetap berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk, walaupun ia tahu harapan itu hanyalah akan menjadi harapan yang sia-sia. Tak lama ia sudah berdiri di depan ruangan Pak Dahlan. Jam tangan Fanny menunjukkan pukul setengah delapan lebih, namun tidak ada tanda-tanda kalau Pak Dahlan berada di dalam ruangan. Benar saja, ketika gagang pintu ia putar pintu tersebut tidak terbuka. Berarti Pak Dahlan belum datang.

“Dasar! Minta orang dateng pagi-pagi gini, eh dia sendiri nggak nampak batang hidungnya”, runtuk Fanny.

Justru kini Fanny kebingungan harus menunggu Pak Dahlan. Di kantin, jam segini belum buka. Di perpustakaan pasti masih terkunci juga. Sempat pula Fanny berpikir untuk menunggu di tempat Imron di belakang kampus, namun ia mengurungkan niatnya. Ia berpikir jika ia menunggu di sana maka tidak bisa dijamin balik kesini ia akan masih serapi ini. Akhirnya ia memilih untuk tetap menunggu di depan kantor Pak Dahlan. Fanny kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas, dan berinisiatif menelpon dosennya.

“Pak, Bapak dimana sih? Saya sudah di depan ruangan Bapak nih!”, omel Fanny begitu terdengar suara Pak Dahlan di ujung telepon.

“Bapak sudah di parkiran nih, kamu tunggu saja disana”.

Benar saja, beberapa menit setelah Fanny menutup ponselnya sosok Pak Dahlan terlihat berjalan dengan tenang menuju ke arahnya. Pak Dahlan nampak gagah dengan berbalut setelah jas berwarna coklat dengan celana panjang berwarna senada, kemeja putih dan dasi merah marun. Cukup perlente untuk ukuran duda seusianya, walaupun pakaian tersebut tidak bisa menutupi perutnya yang membuncit.

“Sudah lama nunggunya?”.

Fanny tidak menjawab. Ia cemberut sambil memasang wajah masam, semasam-masamnya.

“Aduh… gitu aja ngambek, sudah makan kamu Fan?”, Pak Dahlan meletakkan tas kopernya dan sebuah bungkusan yang entah apa isinya di lantai, kemudian memasukkan kunci untuk membuka pintu ruangannya.

Fanny hanya menggeleng. Pak Dahlan hanya tersenyum melihat tinggah mahasiswi favoritnya ini. Ketika pintu dibuka Pak Dahlan mempersilakan Fanny masuk dan gadis cantik itu pun melangkah masuk. Setelah menutup pintu laki-laki tambun itu beranjak untuk meletakkan koper di samping kursinya dan bungkusan yang dibawanya diatas meja. Fanny sendiri hanya berdiri memandangi dosennya itu.

“Nanti kita makan di bandara saja, sambil menunggu pesawat yang membawa rombongan datang sekitar jam 9 atau jam 10”, Pak Dahlan masih nampak sibuk mengatur posisi barang-barang yang ada di ruangannya, sambil terus berbicara tanpa memperhatikan apakah Fanny mendengarkan kata-katanya atau tidak.

“Kemarin Pak Sugeng menelpon Bapak, katanya rombongan yang datang sebanyak lima orang, tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka akan menginap di Hotel ****. Nah… di siang hari kamu bertugas menemani ibu-ibu tersebut. Mereka mau shopping, mau jalan-jalan atau kegiatan-kegiatan lainnya di luar pelaksanaan tugas mereka menilai kampus kita, itu tugas kamu yang meng-handle. Untuk Bapak-Bapaknya biar Bapak yang menangani. sedangkan malam harinya baru kamu bertugas seperti yang kita bicarakan kemarin… bla… bla… bla…”.

Fanny berusaha menyimak kata-kata Pak Dahlan, walaupun tidak semuanya dapat ia cerna dengan baik.

“OK… sekarang langkah pertama! Kamu ganti pakaian kamu dengan ini…”.

Pak Dahlan membuka bungkusan yang tadi dia bawa. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah blazer berwarna hitam dan rok span berwarna senada, juga ada tank top berwarna krem muda.

“Memang kenapa dengan pakaian saya yang sekarang Pak?”, Fanny sedikit protes karena merasa pakaian yang dikenakannya kini sudah cukup sopan. Fanny sendiri kini terbalut dalam kemeja biru muda dengan dipadu cardigan biru tua, serta celana jeans hitam dan high heals.

“Tidak ada yang salah dengan pakaian kamu, tapi pakaian kamu itu terkesan mahasiswa banget. Bapak mau kamu tampil feminim bukan casual. Ingat kamu ini sekarang berperan sebagai asisten Bapak, bukan mahasiswa Bapak”.

Fanny pun tidak bisa protes lagi, “You’re the boss!”, ucap Fanny dalam hati. Setelah meletakkan tasnya diatas sofa, diambilnya bungkusan pakaian tersebut dan hendak beranjak keluar ruangan.

“Eh… kamu mau kemana?”, Pak Dahlan menahan Fanny ketika ia terlihat hendak melangkah meninggalkan ruangan.

“Ganti pakaian Pak”.

“Kenapa musti keluar? Kamu ganti pakaian disini saja!”.

“Ah? Disini Pak?”

“Iya, disini? Memang kenapa? Malu? Kamu kan sudah sering telanjang di depan Bapak, kok pakai acara malu-malu segala?”.

Kata-kata dosennya ini memang benar. Bagian mana dari tubuhnya ini yang tidak pernah luput dari pandangan dan sentuhan Pak Dahlan. Bahkan tidak hanya Pak Dahlan, semua laki-laki yang pernah mem-booking-nya sudah pernah melihatnya telanjang. Namun tentunya semua itu terjadi karena adanya unsur godaan nafsu dan rangsangan yang memicu gairahnya. Sehingga bisa dikatakan kalau tanggalnya pakaian dari tubuh Fanny lebih banyak dikarenakan oleh faktor alam bawah sadarnya. Sebagai wanita normal dalam keadaan sadar seperti ini, tentunya menanggalkan pakaian di depan seorang laki-laki tetap saja ada perasaan risih dalam dirinya. Melihat Fanny yang masih mematung, Pak Dahlan bak komandan yang memerintahkan anak buahnya terlihat memberikan isyarat tangan dengan kesal agar Fanny cepat menanggalkan pakaiannya.

Dengan ekspresi yang tak kalah kesal, Fanny pun dengan segera menanggalkan cardigan berikut dengan kaosnya, sehingga dalam sekejap tubuh atasnya kini hanya terbalut sebuah bra hitam berenda. Setelah membuka high heals-nya, kini Fanny membuka resleting jeansnya dan kemudian jeans itu pun terlepas dengan menyisakan sebuah celana dalam g-string hitam membalut daerah selangkangannya. Dinginnya AC mulai menyerang tubuh Fanny yang hampir polos ini. Fanny pun segara menyambar pakaian yang telah disiapkan oleh dosennya di atas meja.

“Tunggu!”, Pak Dahlan berjalan mendekati Fanny yang hendak memasukkan tank top melewati lehernya.

Tiba-tiba saja Pak Dahlan menyambar tubuh Fanny dan mencium bibirnya dengan membabi buta. Sergapan ini mengakibatkan tank top berikut blazer yang dipegang oleh Fanny terjatuh di lantai. Rupanya gairah Pak Dahlan tiba-tiba saja muncul melihat tubuh sang mahasiswi yang hanya berbalut pakaian dalam mini serba hitam seperti itu. Tubuh Fanny kini melengkung hanya bertumpu pada genggaman tangan Pak Dahlan. Ia sama sekali tidak siap mendapat serangan tiba-tiba seperti ini, sehingga Fanny nampak gelagapan menerima ciuman demi ciuman di bibirnya. Tak hanya bibirnya, kini leher dan permukaan dada Fanny juga mendapat serangan dari bibir Pak Dahlan. Berantakan sudah seluruh make up yang dipoleskan Fanny di wajahnya sejak pagi tadi. Setelah keterkejutannya mulai menghilang, Fanny berlahan mulai bisa menandingi serangan demi serangan yang dilancarkan Pak Dahlan pada bagian atas tubuhnya. Ia tahu kini didepannya ada seorang laki-laki yang sedang dilanda nafsu luar biasa, dan ia adalah alat pemuasnya. Dua insan berbeda generasi ini terus berciuman dengan panasnya. Kini bagian dada menjadi sasaran berikutnya setelah bibir, leher dan mulut Fanny. Bra hitam memang masih menggantung di pundak Fanny namun dengan kondisi kaitan yang sudah terlepas, sehingga payudara Fanny kini sudah sepenuhnya dalam genggaman tangan Pak Dahlan. Payudara kanan Fanny sedang teremas-remas, sedangkan payudara kirinya menerima sedotan dan cupangan. Bekas-bekas merah sudah mulai bermunculan di permukaan gunung kembar sempurna tersebut, menandakan bagaimana dasyatnya gairah Pak Dahlan. Desahan demi desahan pun mulai keluar dari mulut Fanny, menandakan ia mulai terbuai dalam permainan dosennya ini.

“Aakhh…!”, sesekali juga terdengar teriakan lirik dari mulut Fanny ketika Pak Dahlan menggigit pelan puting payudaranya.

“Bentar Pak…”, Fanny hendak menghentikan sejenak serangan Pak Dahlan pada tubuhnya.

Namun laki-laki tambun itu masih saja asyik dengan aktifitasnya tanpa memperdulikan kata-kata Fanny tadi.

“Tolong Pak, berhenti sebentar”, gadis cantik itu mendorong pelan kepala Pak Dahlan yang masih menempel di dadanya. Dorongan ini akhirnya menyebabkan kuluman mulut Pak Dahlan terlepas dengan paksa. Fanny merasakan sedikit perih ketika puting payudaranya menjadi sedikit tertarik.

Seakan sadar kalau ia tidak membawa pakaian dalam cadangan, sedangkan saat ini cairan vaginanya sudah mulai membanjir, kesempatan jeda ini Fanny gunakan untuk melepaskan g-string dan branya. Apalagi sebelum dihentikan tadi tangan Pak Dahlan mulai bergerilya di pahanya dan Fanny tahu pasti kalau sasaran berikutnya dari tangan tersebut pastilah daerah selangkangannya. Memakai celana dalam basah seharian sambil menemani tamu-tamu penting sudah pasti tidak akan terasa nyaman. Tak perlu waktu lama untuk kedua potong pakaian dalam mini itu pun tergeletak ke kursi. Dengan begitu kini tubuh Fanny tampil polos di hadapan Pak Dahlan. Vagina yang berbulu tipis, begitu juga dengan payudara padat miliknya pun kini terekspos bebas di hadapan Pak Dahlan. Ini tentu akan semakin meninggikan gairah laki-laki paruh baya ini. Rupanya jeda ini juga digunakan Pak Dahlan untuk melepaskan celana panjangnya. Dengan masih mengenakan stelan jasnya, kini batang penis Pak Dahlan sudah mengacung dengan tegak di hadapan Fanny. Walau sudah berkali-kali digenjoti oleh batang penis dosennya ini, namun tetap saja setiap kali Fanny melihat batang penis besar dan berurat ini ia selalu bergidik dibuatnya. Pak Dahlan mulai berjalan mendekati Fanny. Fanny hanya bisa menahan nafas, seakan ia tahu detik-detik penis besar itu untuk menghujam lubang vaginanya akan segera tiba. Dan benar saja Pak Dahlan membalikkan tubuhnya dengan cepat, lalu membuka kedua kakinya lebar-lebar dan menekan punggungnya sehingga membuat posisi  Fanny menjadi menungging.

Genggaman tangan Pak Dahlan kini berada di bongkahan pantat Fanny. Fanny hanya bisa memegang ujung meja dengan keras dan memejamkan matanya. Ia tahu vaginanya saat ini belum cukup basah, sehingga hujaman awal penis Pak Dahlan pada lubang vaginanya pasti akan terasa sangat menyakitkan.

“Mmmhhmm…!”, benar saja begitu batang penis Pak Dahlan menerobos lubang vaginanya rasa sakit yang luar biasa langsung terasa di sekujur tubuh Fanny. Ia sampai harus mengatupkan gigi-giginya agar suara teriakan tidak keluar dari mulutnya, karena jam segini mungkin saja sudah banyak mahasiswa berdatangan di luar sana.

Seakan berbanding terbalik dengan yang dirasakan Fanny, Pak Dahlan justru merasakan nikmat luar biasa ketika penisnya menghujam lubang vagina Fanny. Dinding-dinding vagina mahasiswinya ini terasa begitu keset dan kuat meremas permukaan penisnya, sehingga dengan semangat ia terus menghujam-hujamkan batang penisnya ke dalam lubang surga milik mahasiswi favoritnya ini. Beberapa hujaman penis Pak Dahlan di awal terasa begitu menyakitkan bagi Fanny, namun ia berusaha bertahan sambil tetap menguasai diri agar tidak sampai berteriak terlalu keras. Ia sudah sangat berpengalaman berada dalam situasi seperti ini, Fanny cukup tahu kalau rasa sakit ini akan segera menghilang setelah dinding vaginanya menyesuaikan diri untuk beberapa saat.

“Aakhh…!”, walaupun mencoba bertahan untuk berteriak, namun beberapa kali desahan lirih tetap saja keluar dari mulut gadis cantik tersebut.

“Oooh…”, lenguhan lirih pun juga keluar dari mulut Pak Dahlan.

Sebenarnya bermain cinta secara terburu-buru seperti ini bukanlah gaya permainan Pak Dahlan. Fanny mengenal betul karakter dosennya ini dalam bercinta. Pak Dahlan adalah tipe lelaki dengan gaya berlahan namun menghayutkan. Ia sangat menikmati saat-saat foreplay dalam bercinta, dengan memperlakukan wanita teman mainnya bak seorang putri raja di ranjang. Setiap detail tubuh si wanita akan dengan teliti ditelusuri dan diberikan rangsangan maksimal, sehingga ketika memasuki tahap penetrasi si wanita akan betul-betul siap. Penetrasipun selalu akan dilalui dengan berbagai variasi sehingga si wanita akan benar-benar terhanyut dalam birahinya sendiri dan semuanya akan diakhiri dengan sebuah orgasme yang luar biasa. Pagi ini permainan Pak Dahlan terasa begitu berbeda dari biasanya. Permainan Pak Dahlan kali ini lebih menyerupai dengan gaya permainan Imron ataupun pembantunya Thalib, cenderung kasar dan terburu-buru. Fanny sendiri sebenarnya bisa memakluminya, ia pikir semua ini karena sang dosen tidak memiki waktu yang cukup untuk memberikannya foreplay yang sempurna. Bahkan biasanya sebelum penetrasi, batang penis Pak Dahlan pasti selalu transit ke mulut Fanny untuk mendapatkan pijatan dari mulut dan lidahnya. Agaknya untuk kali ini batang penis Pak Dahlan memang nampak sedikit terburu-buru, sehingga lebih memilih rute langsung menuju daerah selangkangan.

“Aaakhh… pelan-pelan dong Pak!”, Fanny berteriak lirih dengan nada protes ketika Pak Dahlan mengangkat satu kakinya dan menghujamkan penisnya dengan kasar. Rupaya rasa sakit ini akan berlangsung lebih lama dari perkiraan Fanny, karena sampai detik ini dinding vaginanya masih terasa belum cukup basah.

“Sorry Fan…”, hanya itu yang terucap dari mulut Pak Dahlan sambil terus menghujamkan batang penisnya.

“Aaakkh… sakit Pak!”, pekik Fanny lagi.

“Tahan bentar aja Fan, lagi enak nih”.

Setelah beberapa kali hujaman kembali memompa lubang kenikmatan Fanny, maka kini dengan penis yang masih menancap Pak Dahlan menarik tubuh Fanny menjauh dari meja. Agaknya ia ingin mengganti posisi, karena begitu ia mencabut penisnya ia mendorong pelan tubuh Fanny sehingga Fanny terduduk di sofa. Fanny membiarkan saja ketika dosennya ini kembali membuka lebar kedua kakinya, sehingga vagina berwarna kemerahan itu menjadi membuka maksimal. Sebelum Pak Dahlan memasukkan kembali batang penisnya, Fanny meludahi jari-jari tangan kirinya kemudian mengusapkannya pada lubang vaginanya. Ia berharap itu cukup memberikan cairan tambahan pada dinding-dinding vaginanya. Rupanya cara ini cukup berhasil, karena ketika Pak Dahlan kembali menghujamkan batang penisnya dan kemudian kembali menggejotnya rasa sakit pada dinding vaginanya mulai berkurang. Kini Fanny pun mulai bisa menikmati dan mengimbangi permainan laki-laki bertubuh tambun tersebut.

“Oooh… nikmat banget Fan, memekmu kamu memang luar biasa!”.

Fanny tidak menjawab. “Aaahh… ooohh…”, hanya beberapa desahan dan erangan yang keluar dari mulutnya.

Genjotan terus menerus menghujami vagina Fanny sambil diselingi ciuman dan beberapa sedotan pada puting payudaranya. Fanny makin melayang. Jika saja ia tidak ingat jika ia melakukan persetubuhan ini di kampus, mungkin saat ini ia akan berteriak sekeras-kerasnya guna menunjukkan kenikmatan yang ia rasakan. Setelah beberapa persetubuhan mengecewakan dengan Rendi, Fanny sangat berharap dosennya ini bisa membuatnya mencapai orgasme. Mungkin saja harapannya ini akan segera terwujud, karena tubuhnya mulai terasa merinding dan vaginanya kian membanjir namun Pak Dahlan sama sekali tidak menunjukkan penurunan dalam tempo permainan. Dan benar saja, begitu Pak Dahlan mempercepat genjotan penisnya dan terus makin cepat, Fanny pun melenguh panjang. Kepalanya mendongak ke langit-langit dengan ekspresi wajah penuh kenikmatan. Ia berasakan benar tubuhnya menggigil dan cairan orgasme mengalir deras dari vaginanya. Orgasme yang begitu didambakannya telah ia capai, semua berkat dosennya yang perkasa ini.

“Oooohh….!!”, lenguhan panjang pun terdengar lirih.

Setelah mencapai orgasmenya dengan sukses, bukan berarti Fanny bisa beristirahat. Pak Dahlan justru makin ganas menggenjot penisnya. Ia tahu sebentar lagi dosennya ini juga akan mencapai klimaks permainan. Untuk itu Fanny membantu sang dosen dengan mengapitkan pahanya sedikit sehingga jepitan dinding vaginanya akan lebih kuat. Dan setelah beberapa genjotan lagi, Pak Dahlan pun mencabut batang penisnya dan menyemprotkan cairan spermanya beberapa kali ke perut dan dada Fanny. Cairan kental itu kemudian meluber turun ke sekujur tubuh Fanny.

“Aaaahh…!!”, terdengar kepuasan yang luar biasa dari lenguhan Pak Dahlan tersebut.

Kemudian Pak Dahlan pun jatuh terduduk di sambil Fanny. Ia mulai mengatur nafasnya sambil menikmati kenikmatan yang baru saja ia dapatkan. Dengan inisiatif sendiri, Fanny berjongkok di depan dosennya itu dan mulai mengulum dan menjilati batang penisnya. Paling tidak dengan cara ini gadis cantik itu ingin menunjukkan rasa terima kasihnya atas orgasme yang baru saja diberikan Pak Dahlan kepada dirinya. Setelah merasa cukup pulih, Pak Dahlan mengangkat tubuh Fanny dan mendudukkan disampingnya. Mereka pun berciuman kembali namun kali ini tanpa ada nafsu didalamnya, yang nampak hanyalah kemesraan antara dua insan ciptaan Tuhan berlainan jenis. Kemudian mereka saling berpelukan dan merangkul satu sama lain. Saat ini Fanny sama sekali lupa kalau lelaki yang dipeluknya ini adalah lelaki yang dikala kesalnya ia sebut bandot tua, dosen mesum dan sebutan lainnya. Saat ini ia merasa begitu tenang berada dalam pelukan lekaki paruh baya yang lebih layak menjadi bapaknya ini. Mereka cukup lama berada dalam kebisuan, mencoba mengembalikan alam sadar mereka yang sedari tadi melayang-layang penuh kenikmatan.

“Fan…”, Pak Dahlan memecah kebisuan.

Fanny mendongakkan kepalanya dan memandang wajah dosennya itu.

“Siap-siap yuk, udah jam tuh…”, Pak Dahlan menunjuk ke arah jam dinding dihadapan mereka yang menunjukkan pukul 08.15.

Fanny pun baru sadar kalau kini dia sedang berada dalam pelukan Pak Dahlan dan masih dalam keadaan telanjang bulat. Namun ia memang sama sekali tidak berusaha untuk menutupi ketelanjangannya. Toh baginya sama saja, mereka hanya berdua di ruangan itu dan lelaki yang memeluknya saat ini sudah memiliki akses penuh atas tubuhnya. Yang membuatnya ingin segera mengenakan pakaian adalah disaat kesadarannya mulai pulih, dinginnya AC di dalam ruangan itu mulai terasa menusuk pori-pori kulitnya. Pak Dahlan mungkin tidak merasakan dingin seperti yang ia rasakan karena paling tidak ia masih mengenakan kemeja, jas lengkap dengan dasinya, walapun tanpa celana. Pak Dahlan kemudian membantu Fanny berdiri. Ia lalu mengambil celana dan celana dalamnya dan mulai mengenakannya. Sedang Fanny sendiri nampak sibuk memunguti satu persatu pakaiannya yang berserakan di sekitar ruangan. Sekilas dilihatnya dirinya sendiri pada cermin di dinding belakang sofa. Tak terlihat lagi Fanny yang tadi pagi begitu rapi, bersih dan cantik. Kini yang terlihat adalah Fanny yang begitu sembrawut dengan tata make up yang sudah tak merata lagi, ditambah rambut yang berantakan. Nampaknya Fanny harus bekerja keras untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Ketika hendak mengenakan celana dalamnya, Fanny melihat bekas cairan sperma yang sudah mengering masih menempel di bagian perut dan dadanya. Ia lalu mengambil tissue dari dalam tasnya dan mencoba membersihkan bekas sperma tersebut. Namun bagaimanapun kerasnya ia menggosok usaha Fanny nampaknya sia-sia belaka, karena sperma kering itu nampak begitu lengket di tubuhnya. Sperma kering itu terlihat seperti bercak-bercak putih yang memenuhi bagian perut dan sedikit payudaranya.

“Pakai ini saja, Fan”, Pak Dahlan mendekati Fanny dan mengusapkan sapu tangan yang telah dibasahi ke bagian-bagian tubuh Fanny menempel noda sperma. Bagian payudara justru mendapat usapan ekstra walaupun bagian itu terlihat paling sedikit terkena muncratan sperma. Aaakkh…”, Fanny mendesah ketika puting payudaranya tersentuh usapan sapu tangan.

Desahan itu pun menjadi semakin lirih ketika Pak Dahlan menaikkan kakinya dan mengusap lembut bibir vaginanya. Pak Dahlan hanya tersenyum melihat mahasiswinya ini bergelinjang akibat usapannya. Begitu kaki Fanny kembali diturunkan, tanpa diduga sebuah pelukan dam ciuman mendarat di bibir Fanny. Fanny tersentak menerima serangan tiba-tiba tersebut. Pelukan Pak Dahlan semakin kencang seiring lumatannya yang semakin ganas ke bibir Fanny. Kali ini Fanny tidak pasrah begitu saja menerima serangan dosennya ini. Pada sebuah kesempatan Fanny mendorong tubuh Pak Dahlan sehingga wajah dosennya ini menjauh dari wajahnya.

“Ingat Pak, bentar lagi jam setengah 9 dan saya masih telanjang”.

“Oh iya, Bapak hampir lupa! Habis kamu benar-benar menggairahkan, diberi berapa kali pun Bapak tak akan pernah puas”.

Fanny cukup tersanjung mendengarnya. “Tapi ingat Pak, setelah pagi ini selama dua hari kedepan saya bukan lagi milik Bapak tapi sudah menjadi milik orang lain”, Fanny seakan mempertegas kalau dirinya tidak mau ditengah-tengah “tugas dinas”nya dosennya ini meminta jatah syahwat padanya, alias tidak menerima double job.

“Ok, tapi Bapak harap setelah semua ini selesai kamu masih punya stamina yang cukup, karena Bapak akan merapel jatah Bapak yang hilang selam dua hari”. Tawa Pak Dahlan pun terdengar di seluruh ruangan.

Fanny pun bergidik mendengarnya

To be continued…
****************

Luar Biasa! Dengan basic model, rupanya Fanny memang sudah sangat ahli merias dirinya. kini tak terlihat lagi Fanny yang acak-acakan seperti beberapa menit yang lalu. Di depan kaca kamar mandi sebuah restoran cepat saji dalam bandara ini kini berdiri seorang wanita yang cantik dan cerah memukau. Apalagi dibalut blazer dan rok span diatas lutut membuat Fanny menjelma menjadi seorang wanita feminim, anggun dan dewasa. Jika ada mahasiswa di kampusnya yang sebelumnya tidak mengenal Fanny sebagai mahasiswa, mungkin mereka akan menyangka ia adalah dosen baru di kampus tersebut. Fanny tersenyum puas. Kecantikan lahiriah yang begitu sempurna, yang kadang ia syukuri sebagai berkah, namun kadang disisi lain ia anggap sebagai musibah. Berkah karena ia bisa memperoleh kemudahan dan penghasilan yang cukup besar kecantikannya ini.

Musibah karena kecantikannya ini membuat ia sama sekali tidak pernah memperoleh sebuah cinta sejati, karena semua laki-laki yang pernah ia cintai hanya melihat dirinya bak pakaian indah untuk diperlihatkan, dipakai dan setelah bosan bisa dicampakkan begitu saja. Karena itulah kini cara pandang Fanny terhadap laki-laki telah berubah. Tak ada lagi cinta bagi Fanny, paling tidak sampai saat ini. Fanny keluar dari kamar mandi. Sepanjang perjalannya menuju meja dimana Pak Dahlan duduk menunggunya, hampir semua mata tertuju padanya. Tak hanya mata laki-laki, namun mata para wanita pun memandang sirik ke arahnya. Beberapa siulan dan godaan usil keluar dari mulut beberapa laki-laki yang dilewatinya. Walau hanya beberapa meter, namun jalan ini bagaikan cat walk yang panjang bagi Fanny, dimana ia adalah sebagai model utamanya. Di tempat duduk Pak Dahlan tersenyum kearahnya. Seakan bangga kalau wanita cantik ini yang mendapat sorotan semua mata ini adalah pendampingnya hari ini. Ia patut bangga karena mungkin saja beberapa diantara mata-mata yang memandangi Fanny sangat ingin berada pada posisinya saat ini. Beberapa meter sebelum mahasiswi favoritnya ini sampai di meja, nada ponsel Pak Dahlan berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Pak Dahlan mengeluarkan ponselnya dari dalam poket sabuknya. Di layar tertera nama “Sugeng”, dibukanya pesan itu dan muncul sebuah kalimat, “Sya sdah trun pswat, bpk dimna?”. Pak Dahlan dengan cepat membalas pesan tersebut, “Sya sdah d bandra, Sya sgra kesna”. Selesai mengetik pesan singkat, dilihatnya Fanny sudah duduk didepannya.

“Sudah selesai Fan? Ayo kita ke penjemputan domestik, yang kita tunggu sudah landing”.

Setelah membayar mereka beranjak dari meja tersebut, dan Fanny pun mengikuti Pak Dahlan keluar dari stand makanan cepat saji tersebut.

******

Kini mereka berdua sudah berada diantara penjemput-penjemput penumpang lainnya. Beberapa penjemput nampaknya beberapa sudah menemukan penumpang pesawat yang mereka cari. Sedangkan Pak Dahlan nampaknya masih belum menemukan rombongan yang hendak mereka jemput. Fanny sendiri sebenarnya dari pagi tadi sedikit penasaran dengan pria yang bernama Sugeng, yang harus ia “temani” selama dua malam. Ia hanya berharap paling tidak pria ini tidak akan jelek-jelek amat, karena sejam atau dua jam di atas ranjang bukanlah waktu yang singkat.

“Kamu sudah mengerti kan yang tadi Bapak jelaskan waktu makan?”, Pak Dahlan seolah ingin mempertegas lagi hasil breafing yang tadi pagi mereka bicarakan.

Fanny mengangguk pelan.

“Pokoknya kamu ikuti saja kata-kata Bapak, dan coba untuk ikut berbaur bersama mereka”.

Kembali ia mengangguk.

“Nah… itu mereka!”, Pak Dahlan mengajak Fanny mendekati lima orang yang berjalan bersama,dan mungkin ini adalah rombongan yang terakhir.

“Selamat datang Pak Sugeng”, Pak Dahlan menyalami seorang lelaki paruh baya mungkin sekitar diatas limapuluhan, karena ia tampak lebih tua dari Pak Dahlan.

“Oh, ini dia yang bernama Pak Sugeng”, pikir Fanny dalam hati. Berbeda dengan dosennya yang bertubuh tambun dan berkulit sawo matang, rambutnya agak bergelombang dengan kumis di atas bibir tebalnya. Pak Sugeng bertubuh pendek, kurus dengan rambut lurus yang sudah mulai memutih dibeberapa bagian dan berkaca mata. “Dasar! Udah bau tanah masih juga minta layanan ekstra”, pikir Fanny lagi. Tapi melihat perawakan calon “costumer”-nya paling tidak ia bisa bernafas lega, karena paling tidak kelihatannya ia tidak akan bekerja terlalu keras.

“Hallo Ibu, hallo Bapak…”, Pak Dahlan menyapa ramah kepada keempat anggota rombongan lainnya.

“Kenalin Pak, ini dari yang paling subur Bapak Deni, Pak Cokro, Bu Yanti dan yang paling kanan Bu Citra, sekretaris saya”, Pak Sugeng memperkenalkan satu per satu anggota rombongan.

Pak Deni yang dikatakan paling subur memang memiliki tubuh agak gemuk dan bongsor, sehingga Pak Cokro begitu terlihat kecil berada disampingnya selain memang tinggi tubuhnya jauh lebih pendek diantara yang lain. Sedangkan Ibu Yanti terlihat begitu dewasa dengan beberapa uban nampak di rambutnya, nampaknya Ibu Yanti lebih senior ketimbang Ibu Citra. Dilihat dari perawakannya sendiri, wanita yang bernama Citra ini jelas tidak menampakkan image seorang ibu-ibu. Malahan dari segi postur tubuh dan wajah Citra bisa dikatakan masih sangat muda dan cantik, tidak berbeda jauh dengan Fanny. Mungkin ibu yang satu ini adalah pengantin baru. Dengan potongan rambut yang dicat coklat mirip dengan cat rambut Fanny, wanita cantik ini terlihat begitu fresh. Hal ini jelas menggoda mata Pak Dahlan yang memang doyan gadis-gadis cantik. Sambil berbicara sesekali ekor mata Pak Dahlan melirik ke arah Citra yang hari itu terbalut kemeja biru dan rok span pendek berwarna hitam.

“Oh, iya ini Fanny, asisten saya di kampus”, Pak Dahlan kemudian memperkenalkan Fanny kepada mereka semua.

Fanny kemudian juga bersalaman dengan mereka semua satu persatu. Sewaktu bersalaman dengan Pak Sugeng, Fanny merasakan tatapan nanar dari pria tua itu dan juga dari rekan-rekan laki-lakinya yang lain. Tatapan seekor harimau saat melihat mangsanya. Fanny berusaha tidak memperhatikan hal itu dan mencoba seramah mungkin dihadapan tamu-tamu Pak Dahlan ini. Paling tidak, sampai saatnya tiba Pak Sugeng tidak akan dapat melakukan apa-apa terhadap dirinya.

“Mari Bapak, Ibu sekarang saya antar ke hotel untuk beristirahat”.

“Pak Dahlan… apa bisa kita langsung ke kampus saja dulu buat inspeksi pertama, setelah itu baru kita ke hotel untuk beristirahat, supaya di hotel kami tahu bayangan kegiatan besok seperti apa”, Pak Sugeng sebagai pimpinan nampak mencoba mengusulkan perubahan acara.

“Oh, kalau memang begitu baiklah saya antar Bapak Ibu ke kampus terlebih dahulu”.

Dan mereka pun berjalan bersama menuju areal parkir bandara.

******

Kegiatan pemeriksaan permulaan ini ternyata berjalan cukup lama. Bahkan waktu makan siang sampai terlewati karena anggota tim pemeriksa silih berganti mengajukan pertanyaan terkait kegiatan-kegiatan kampus. Dari mulai administrasi kampus, kegiatan belajar mengajar, kegiatan ekstra kampus, sampai aktifitas organisasi kemahasiswaan. Suasana terasa begitu serius, sehingga praktis Fanny dalam hal ini sama sekali belum berperan. Ia hanya sesekali menemani anggota tim wanita berbicara, atau mengantarkan mereka berkeliling melihat-lihat suasana kampus seperti instruksi Pak Dahlan. Saking tak terasanya waktu, akhirnya mereka semua baru melaksanakan makan siang sekitar pukul setengah satu, itupun dilakukan di restoran hotel tempat mereka menginap sebelum check in. Di meja makan, Fanny juga masih belum memiliki peran. Obrolan mereka sangat jauh dari daya tangkap Fanny yang terbiasa cuek dengan segala hal yang rumit. Sampai saat ini peran Fanny tak lebih seperti sebuah vas bunga di atas meja yang berfungsi sebagai penyejuk mata. Beberapa kali Fanny memergoki ketiga laki-laki anggota rombongan tersebut menatap ke arah dada, paha dan ujung roknya. Pakaian yang diberikan Pak Dahlan kepadanya bukannya melindungi dirinya dari tatapan-tatapan nakal itu, namun justru memberikan akses lebih kepada mereka. Potongan blazer yang begitu rendah di bagian dada, serta ujung rok yang terlalu pendek membuat Fanny cukup bekerja keras untuk menutupi bagian-bagian tubuhnya yang sensitif, sambil tetap harus berusaha tersenyum dan bersikap ramah. Sedangkan di lain pihak Pak Dahlan juga musti harus membagi konsentrasi antara berbicara dengan tamu-tamunya dengan dorongan birahinya akibat menatap sosok Citra. Sosok yang sangat indah dan menggairahkan. Make up minimalis yang menghiasi wajah cantik itu justru menambah kesan alamiah seorang wanita dewasa. Andai saja saat ini hanya ada mereka di tempat ini, mungkin laki-laki mesum ini akan mulai melancarkan rayuan-rayuan mautnya mencoba mencari simpati wanita tersebut. Sebenarnya jika diperhatikan, Citra bukannya tidak sadar sedang diperhatikan oleh Pak Dahlan. Wanita cantik itu sepertinya benar-benar sadar, malahan justru terkesan sedikit memancing dengan gerak-geriknya. Namun sampai saat ini masing-masing pihak terlihat masih menjaga diri karena saat ini adalah waktunya untuk bekerja.

Lama-lama akhirnya Fanny mulai bosan harus berpura-pura memperhatikan pembicarakan yang sedang berlangsung saat ini. Memang sampai saat ini ia masih mencoba untuk mengimbangi apabila ada yang bertanya kepadanya, namun tetap saja semuanya terasa membosankan. Sedangkan Pak Dahlan nampak seru berbicara sambil sesekali ditanggapi dengan tawa oleh tamu-tamunya. Ditengah-tengah pembicaraan, ponsel Fanny berbunyi. Dalam hati Fanny bersyukur ponselnya berbunyi, paling tidak ia ada alasan untuk meninggalkan meja. Rasa syukur Fanny mendadak hilang ketika melihat layar ponselnya yang tertera sebuah nama “Si Mesum”. Nama itu ia berikan untuk menyimpan nomor Imron dalam ponselnya. Namun tetap saja baginya paling tidak kini ia ada alasan untuk beranjak dari meja tersebut. Setelah meminta ijin kepada semua anggota rombongan untuk menerima ponselnya, Fanny segera beranjak dari kursinya.

“Kenapa Pak?”.

“Hehehe… nggak apa-apa Non, cuma lagi kangen aja nih pengen ngentotin Non”.

Kurang ajar sekali laki-laki ini pikir Fanny dalam hati. Ia pikir dirinya wanita seperti apa sehingga ia bisa seenaknya menggunakan kata-kata tidak senonoh seperti itu.

“Sekarang saya lagi sibuk Pak, saya ada urusan penting dengan Pak Dahlan”.

“Oh.. Non bareng Pak Dahlan ya? Pantes saya cari-cari di kampus Non nggak ada. Kalau boleh tahu urusan penting apaan sih Non? Hehe…”.

“Bukan urusan Bapak… sudah ya saya tidak bisa lama-lama nih”.

“Ya sudah, saya cari memek lain aja, memek Non nanti-nantian saja saya genjotnya hehehe…”.

Imron langsung mematikan teleponnya. Fanny menggerutu dalam hati. Ia sebenarnya tak perlu bersikap kesal seperti ini, karena ia tahu betul gaya Imron memang ceplas-ceplos seperti itu. Namun tetap saja kata-kata Imron tidak layak untuk dikatakan kepada seorang wanita bermartabat seperti dirinya.  Fanny malas untuk kembali bergabung dengan tamu-tamunya di meja makan, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke toilet dan merapikan dirinya. belum beberapa langkah ia melangkahkan kakinya kembali terdengar suara ponselnya dari dalam  tas.

“Uuh… mau apa lagi sih si mesum ini”, gerutu Fanny. Begitu ia mengeluarkan ponselnya ternyata telepon itu bukan dari Imron lagi.

“Hallo Om…”, kali ini nada bicara Fanny jauh dari nada bicaranya barusan. Kini suara Fanny terdengar begitu manja.

“Hai sayang, nanti malam ada waktu nggak say? Om baru sampai nih dari bandara, ada pelatihan disini selama seminggu, jadi mumpung disini Om pengen ngelepas kangen nih”.

Fanny sebenarnya ingin sekali mengatakan malam ini tidak ada acara, namun ia tahu itu tidak mungkin karena ia harus melakukan “tugas dinas”nya malam ini. Di ujung telepon adalah Om Hendra, seorang pengusaha eksport import yang sudah lama menjadi langganan Fanny. Fanny sangat menyukai langganannya yang satu ini. Walaupun dari segi permainan ranjang Om Hendra bisa dikatakan biasa aja, namun Fanny sangat menyukai laki-laki ini karena ia selalu memanjakannya dan memberikan bayaran, tips dan traktiran-traktiran yang jumlahnya berjuta-juta. Setiap datang ke kotanya Om Hendra pasti menyempatkan waktu membooking Fanny, karena  ia selalu mengatakan kalau Fanny adalah salah satu wanita favoritnya. Inilah yang membuat ia begitu royal kepada Fanny.

“Aduh Om, kok bilanginnya mendadak sih? Fanny dua hari ini sudah full booking nih”.

“Oh gitu ya? Nggak bisa kamu chancel aja?”.

“Nggak bisa Om, Om kan tahu kalau Fanny tuh nggak pernah ngebatalin jadwal, kecuali memang dibatalin sama pelanggan yang booking”.

“Iya Om tahu kamu tuh profesional, karena itulah Om suka banget sama kamu. Ya udah Om juga bakal seminggu disini, so kamu telepon Om kalau urusan kamu sudah selesai, OK Sweety?

“OK, pasti Om …”.

“Uh…!”, Fanny menghembuskan nafas setelah percakapannya terputus. Seandainya saja ia kosong hari ini, pasti saat ini juga ia akan bergegas menuju ke hotel tempat Om Hendra menginap. Ia sudah bisa membayangkan apa saja yang ia akan minta kepada laki-laki itu. Diantara daftar keinginannya, ponsel berada di posisi teratas. Ia ingin mengganti ponsel blackberry-nya ini dengan keluaran terbaru. Fanny tahu uang sebesar itu bukan hal yang luar biasa bagi Om hendra. Dengan pelayanan ranjang terbaiknya, pasti ponsel impiannya itu dengan segera berada ditangannya. Namun ia harus menunda dulu semua keinginannya itu, karena ada “tugas” penting yang menantinya.

Fanny kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet dalam restoran tersebut. Di dalam toilet Fanny buang air kecil, serta merapikan riasan dan rambutnya. Ia sebenarnya bosan terperangkap dalam  keadaan seperti ini, namun ia mencoba untuk bersikap seperti air yang bisa mengalir mengikuti situasi. Ia harus bertahan, agar nantinya ia juga bisa cepat-cepat meninggalkan kampus dan tentunya juga meninggalkan dunia yang penuh dengan sekelompok laki-laki mesum di dalamnya. Selesai merapikan diri Fanny pun keluar dari toilet. Dan betapa terkejutnya ia, ketika di luar toilet ternyata berdiri Pak Sugeng menyambut dirinya.

“Eh Bapak…”, Fanny menunduk hormat sambil memberi senyuman.

“Iya Dik Fanny, saya sudah lama lo menunggu Dik Fanny disini”, sebuah senyuman tersungging dari bibir pria tua ini. Berdasarkan naluri kewanitaannya Fanny tahu ada sesuatu dibalik senyuman itu.

“Oh, menunggu saya? Memang ada apa ya Pak?”, Fanny mencoba mengatur nada suaranya agar tetap sopan.

“Pak Dahlan sudah menerangkan pada saya semuanya…”.

Jutaan listrik terasa menyengat tubuh Fanny ketika mendengar kata-kata Pak Sugeng tadi. Ia sendiri sudah tahu kalau saat ini pasti akan datang cepat atau lambat, dan rasanya inilah saatnya baginya untuk melaksanakan “tugas dinas”nya.

“Rekan-rekan saya semua sudah check in. Sekarang Dik Fanny pulang dulu ke rumah untuk mengambil pakaian karena saya minta Dik Fanny ikut menginap di hotel ini, saya sudah menyuruh Pak Dahlan untuk memesankan 1 kamar tambahan tepat di samping kamar saya”.

Fanny menelan ludah. Selama ini ia pikir ia hanya akan melaksanakan “tugas dinas”nya barang satu atau dua ronde setelah itu ia bisa pulang, paling tidak itu yang dijanjikan oleh Pak Dahlan kepadanya. Fanny sama sekali tidak pernah berpikir kalau dirinya sampai harus ikut menginap di hotlel ini. Kalau mendengar perkataan Pak Sugeng tadi berarti ia harus bertugas all night atau mungkin bisa lembur until dawn, karena dengan kamar bersebelahan maka Pak Sugeng bisa dengan mudah meminta jatah syahwat kapan saja. Tubuh Fanny terasa lemas, ia bisa membayangkan betapa beratnya tugas yang akan ia lakukan untuk dua hari mendatang ini.

“Kok diam? Dik Fanny keberatan?”

“Oh.. ti… tidak, sama sekali tidak…”, Fanny berbohong.

“Baiklah, kalau begitu sekarang Dik Fanny bisa pulang sekarang dan saya harap Dik Fanny bisa balik secepatnya, terus terang saya sudah tidak tahan untuk menghabiskan waktu bersama Dik Fanny hahaha…”.

Suara tawa laki-laki tua dihadapannya ini, terdengar seperti tawa iblis di telinga Fanny. Fanny hanya menggangguk, kemudian mencoba menyunggingkan sebuah senyuman. Ia pun berjalan meninggalkan Pak Sugeng. Di restoran ternyata meja tempat mereka kumpul tadi sudah sepi. Sebenarnya kalau Pak Dahlan ada disana ingin rasanya Fanny mendamprat dosennya itu karena merubah rencana tanpa seijinnya. Fanny lalu mengambil ponselnya, dan menghubungi nomor Pak Dahlan.

“Pak! Apaan sih maksudnya saya sampai harus menginap juga di hotel ini?!”, Fanny langsung melabrak begitu terdengar suara dosennya di ujung telpon.

“Sabar Fan… sabar dulu dong…”, Pak Dahlan terdengar berbisik di ujung telpon. Rupanya sekarang ia berada di lantai 3 mengantar tamu-tamunya menuju kamar.

“Bapak jangan merubah rencana seenaknya dong! Saya kan jadi repot nih!”.

“Ini permintaan langsung dari Pak Sugeng, pokoknya kamu ikutin saja dulu nanti kita bicarakan lagi ya. Nggak enak sama tamu-tamu yang lain”.

“Nggak bisa gitu dong! Ini harus diselesaikan saat ini juga…”.

“Please Fan, kamu lakukan saja apa yang diminta ya, nanti Bapak bicarakan lagi dengan Pak Sugeng tentang masalah ini”.

Fanny sebenarnya masih kesal. Ingin rasanya ia mencaci maki bandot tua ini lebih lama, namun ia akhirnya memilih untuk  ponselnya setelah Pak Dahlan terus memohon beberapa kali. Setelah itu ia pun keluar dari hotel. Syukur tadi pagi ia membawa mobilnya sendiri, jika tidak tentunya ia akan bertambah kesal karena harus pulang menggunakan taxi.

*************************

SCENE 5 : Working Overtime

Hari Kedua.

Ruang Rapat Fakultas Teknik. Pukul : 14.35

Pak Dahlan nampak berjalan di koridor kampus. Masih dengan pakaian yang dikenakannya tadi pagi, ia nampak berjalan tergesa-gesa sambil sesekali melihat jam tangannya. Rupanya ia baru saja kembali dari hotel tempat tamu-tamu “istimewa”nya menginap. Dari langkah kakinya terlihat Pak Dahlan berjalan menuju ruang rapat di Fakultas Teknik. Sesampainya di depan pintu ruangan, Laki-laki bertubuh tambun itu sempat sekilas melihat melalui jendela ruangan tersebut. Di dalam terlihat dosen-dosen undangan sudah pada hadir dan nampak bercakap-cakap antara satu dengan lainnya.

“Selamat sore Bapak-bapak, Ibu-ibu, maaf  lama membuat anda semua menunggu lama. Tadi saya baru dari hotel mengantar rombongan tim pemeriksa yang besok akan menilai kampus kita”.

“Tidak apa-apa Pak Dahlan, beberapa dari kita yang mengajar sore juga baru datang kok”, Pak Gunawan, Ketua Jurusan Teknik Mesin menanggapi permohonan maaf Pak Dahlan.

“Apa ada yang belum hadir Pak?”.

“Sepertinya sih sudah lengkap”, Pak Gunawan menandangi satu persatu mereka yang ada di dalam ruangan rapat tersebut. “Iya sudah lengkap Pak”.

“Baiklah, kalau begitu untuk mempersingkat waktu kita mulai saja rapatnya”.

Rapat persiapan  pun berjalan dengan lancar, sambil diselilingi beberapa perdebatan diantara peserta yang hadir. Setelah hampir dua jam kesemua peserta rapat memberikan pendapatnya, akhirnya rapat persiapan pun berakhir dengan beberapa buah poin-poin kesepakatan.

“Baiklah, Bapak-bapak dan Ibu-ibu seperti telah disepakati bersama tadi bahwa akan dibentuk kelompok kecil yang akan mempersiapkan bahan-bahan laporan untuk dipresentasikan besok pagi di depan anggota tim pemeriksa”, Pak Dahlan nampak duduk di depan peserta rapat dan membacakan hasil kesimpulan rapat hari ini. “Adapun keanggotaan dari kelompok kecil ini adalah Pak Gunawan sebagai ketua, Ibu Marina sebagai sekretaris serta Pak Deddy dan Ibu Sherly sebagai anggota. Ibu-ibu dan Bapak-bapak dapat bekerja mulai sore ini sehingga besok kita semua bisa mempresentasikan hasilnya pada Rapat Evaluasi Akhir  di depan Tim Pemeriksa”.

Pak Dahlan lalu mengambil sebuah map besar dan sebuah amplop coklat besar yang di dalamnya terdapat beberapa berkas. Ia lalu beranjak mendekati Pak Gunawan.

“Dengan ini saya serahkan berkas-berkas administrasi dan keuangan kampus kita secara simbolis kepada Pak Gunawan sebagai ketua kelompok kecil, sehingga nantinya setelah ini dapat langsung bekerja bersama anggota kelompok lainnya”.

Laki-laki tambun itu pun menyerahkan map besar dan amplop coklat tersebut kepada Pak Gunawan. Setelah itu ia kembali ke tempat duduknya.

“Sebelum rapat ini saya tutup, apa ada tambahan pertanyaan dari para peserta rapat?”.

Tak ada tanggapan dari peserta rapat. Beberapa dari mereka hanya nampak berbisik-bisik dengan rekan di sebelahnya, sedangkan beberapa lainnya terlihat hanya terdiam.

“Baiklah, karena tidak ada pertanyaan dan keanggotaan kelompok kecil sudah terbentuk maka hari ini rapat saya tutup dan Bapak-bapak dan Ibu-ibu selain anggota kelompok kecil dapat meninggalkan ruangan ruangan untuk kembali melaksanakan aktifitasnya masing-masing”.

Para peserta rapat pun satu per satu keluar dari ruangan, sampai akhirnya hanya ada lima orang di dalam ruangannya tersebut yaitu anggota kelompok kecil ditambah Pak Dahlan sebagai ketua tim persiapan evaluasi kampus.

“Kami akan bekerja di ruangan multimedia saja Pak, soalnya disana selain tersedia komputer juga ada printer serta lengkap dengan jaringan internet seandainya kita perlu meng-download beberapa data terkait”, Pak Gunawan berkata kepada Pak Dahlan.

“Oh tidak masalah Pak Gunawan, asal Bapak-bapak dan Ibu-ibu merasa nyaman saja”.

“Baiklah, kalau begitu Bapak-Bapak Ibu-ibu kita pergi ke ruang multimedia sekarang”, kemudian Pak Gunawan mengajak anggota kelompoknya keluar dari ruangan tersebut.

Ketika mereka semua akan beranjak keluar, tiba-tiba Pak Dahlan menyeletuk.

“Tapi maaf sebelumnya Pak Gunawan, saya tidak bisa mendampingi Bapak-Bapak dan Ibu-ibu sekalian soalnya saya masih ada beberapa masalah yang harus saya urus di luar kampus, terkait tamu-tamu khusus kita yang sedang menginap di hotel”.

“Tidak apa-apa Pak Dahlan, setelah semuanya selesai  nanti saya akan menghubungi Bapak”.

“OK, semoga pekerjaan Bapak dan Ibu bisa selesai tepat waktu”.

Keempat orang anggota kelompok kecil pun beranjak ke luar ruangan, meninggalkan Pak Dahlan seorang diri di dalam ruangan tersebut. Sepeninggal keempat orang tersebut, Pak Dahlan nampak mengeluarkan ponselnya dan kemudian terlihat asyik bercakap-cakap dengan seseorang di ujung di telepon. Sesekali laki-laki paruh baya tersebut terlihat tertawa, memperlihatkan kalau seseorang yang diajaknya berbicara adalah seseorang yang sangat menyenangkan. Cukup lama Pak Dahlan menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap sebelum akhirnya ia mematikan ponsel dan beranjak keluar dari ruangan tersebut.

******

Di dalam ruangan multimedia.
Marina

Marina

“Bagaimana Bu Marina sudah selesai disusun?”.

“Sedikit lagi Pak, tinggal men-transfer ke dalam bentuk power point”.

Marina masih terlihat sibuk di depan komputer. Di sampingnya duduk Sherly yang bertugas membacakan angka-angka yang tertulis untuk kemudian di ketik oleh Marina. Baik Marina maupun Sherly adalah merupakan dosen muda di Universitas ini. Marina berumur 25 tahun sedangkan Sherly satu tahun lebih tua, namun keduanya masuk menjadi dosen di tahun yang sama. Marina menjadi dosen di Fakultas Sastra Inggris, sedangkan Sherly adalah merupakan dosen di Fakultas Kedokteran. Keduanya selain muda, juga sama-sama dikaruniai wajah cantik dan fisik menawan. Yang membedakan keduanya adalah dari faktor nasib. Marina di tahun keduanya sebagai dosen sudah harus terjerembab ke dalam lembah nista dan terjerumus menjadi budak seks Imron, si penjaga kampus  (baca Nightmare Campus 13: The Ungrateful), sedangkan Sherly lebih beruntung karena sampai saat ini tidak harus mengalami nasib yang sama.

“Syukur semuanya berjalan lancar sehingga besok pagi sebelum rapat dimulai kita hanya tinggal melakukan finishing dan sedikit melakukan cross cek data dengan data yang ada di Universitas”, Pak Gunawan merenggangkan kedua tangannya keatas mencoba mengusir pegal di tubuhnya. Pria berambut keriting pendek dan berkaca mata itu termasuk dosen senior di Fakultas Teknik. Tak lama kemudian Pak Gunawan kemudian terlihat berjalan mengelilingi ruangan ber-AC tersebut, mungkin mencoba mengurangi penat akibat sedari tadi bergelut dengan data dan angka.

“Artinya besok kita masih harus melihat data Universitas ya Pak?”, tanya Sherly.

“Paling tidak kita perlu melakukan cross cek walau data ini sumbernya juga dari pihak Universitas, ya anggap saja untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan”.

“Semoga saja tidak ada masalah lagi karena hari ini sudah terasa sangat melelahkan”, Pak Deddy menimpali. Pak Deddy juga merupakan salah satu dosen senior. Pria bertubuh jangkung dan berkumis lebat itu adalah merupakan dosen di Fakultas Hukum.

“Ya semoga saja semuanya berjalan lancar Pak Deddy”.

Mereka pun kemudian kembali berkutat dengan kesibukan mereka masing-masing. Marina dan Sherly kembali memasukkan data-data ke dalam komputer, sedangkan Pak Deddy dan Pak Gunawan bertugas mengedit data-data yang masuk dari masing-masing Fakultas dalam bentuk hard copy.

“Maaf Sher, kamu gantiin aku dulu sebentar ya, aku mau ke toilet sebentar”.

“OK Rin”.

Marina pun beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tas jinjingnya diatas meja. Sedangkan Sherly berganti posisi dengan Marina untuk kemudian duduk di depan layar komputer. Kegiatan memasukkan data pun kini dilakukan oleh wanita cantik berambut panjang bergelombang tersebut.

“Permisi Bapak-bapak, saya permisi keluar sebentar”.

Pak Deddy dan Pak Gunawan mengangguk hampir berbarengan. Marina kini berjalan menyusuri lorong kampus di tengah kegelapan. Sebenarnya dalam hatinya cukup terbersit ketakutan untuk berjalan sendirian di tengah kegelapan malam seperti ini, namun dorongan untuk membuang air kecil sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia juga tidak enak untuk meminta Sherly mengantar dirinya, sehingga gadis cantik itu pun memberanikan diri untuk berjalan menuju toilet di seberang kampus. Sambil berjalan pelan Marina terlihat menggenggam erat tas jinjingnya di depan dada. Toilet yang akan ditujunya memang berada cukup jauh dari ruangan multimedia karena toilet yang ada di dekat sana mengalami kerusakan akibat saluran airnya yang macet. Sambil berjalan berlahan Marina menajamkan matanya dan sesekali memandang sekelilingnya meyakinkan kalau di tempat itu tidak ada orang lain. Akhirnya ia pun sampai di toilet yang ditujunya. Ia pun segera masuk ke dalam bilik khusus wanita. Setelah menutup pintu, Marina lalu mengangkat rok spannya dan meloloskan celana dalam yang dikenakannya dari balik rok tersebut. Ia pun kemudian berjongkok guna melepaskan hajatnya. Akibat telalu lama menahan hajat membuang air kecil, Marina pun memerlukan waktu cukup lama untuk menyelesaikan aktifitasnya ini. Begitu selesai, wanita cantik itu kemudian membasuh vagina montoknya dan mengenakan kembali celana dalamnya.

Setelah merapikan kembali rok span dan kemejanya, ia pun beranjak keluar dari dalam bilik. Belum beberapa langkah keluar dari bilik tiba-tiba saja sebuah tangan menyergap tubuhnya dari belakang dan langsung membekap mulutnya. Marina pun langsung meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan tersebut. Tas jinjing yang dibawanya sudah terlihat terjatuh ke lantai. Beruntung sebelumnya ia sudah menutup resleting tas tersebut sehingga benda-benda yang ada di dalamnya tidak berhamburan keluar. Selain meronta Marina  juga berusaha berteriak, namun eratnya dekapan dan bekapan tersebut membuat semua usahanya meronta menjadi sia-sia.

“Tenang Bu, ini saya Imron”.

Mendengar suara itu Marina pun menghentikan rontaannya. Laki-laki yang membekapnya itu memang tak lain dan tak bukan adalah Imron. melihat wanita cantik itu mulai tenang, Imron pun kemudian berlahan mengendurkan dekapannya untuk kemudian melepaskan wanita cantik tersebut. Marina pun langsung membalikkan tubuhnya dan mengumpat kencang,

“Pak Imron… Jangan pernah melakukan itu lagi! Saya kaget setengah mati, tahu tidak?”.

Mendengar umpatan Marina, Imron justru hanya terlihat cengeesan sambil menggaruk-garuk kepalanya, “Maaf Bu, habis tadi saya lihat ada orang berjalan di tengah kegelapan, jadi saya ikutin saja takutnya maling eh taunya Ibu Marina hehe…”.

Marina berusaha mengatur nafasnya yang nampak memburu. Wajah cantik Marina terlihat begitu pucat memperlihatkan bagaimana takutnya ia akibat peristiwa yang baru saja terjadi.

“Lembur ya Bu?”.

“Iya Pak”, Marina masih berusaha mengatur nafasnya.

“Sendirian?”.

“Nggak Pak, sama teman-teman dosen yang lain”, Marina mengambil tas jinjingnya yang tergeletak di lantai toilet.

“Oh, saya kira sendirian hehe…”.

“Memang kalau saya sendirian kenapa?”.

“Nggak apa-apa sih Bu, cuman kalau Ibu sendirian kan saya bisa minta “jatah”, habis malem ini dingin banget Bu hehehe…”.

“Apaan sih Pak!”, kembali Marina berkata sewot. “Udah ah saya mau balik dulu”.

Marina kemudian membalik tubuhnya dan hendak beranjak pergi.

“Tunggu Bu!”, Imron memegang lengan Marina dan menariknya. Akibat tarikan Imron, tubuh Marina terhempas dalam dekapan Imron. Kemudian tiba-tiba saja Imron mencium bibir Marina dan memagutnya dengan kasar. Marina sendiri nampak gelagapan menerima pagutan bibir Imron sehingga mengakibatkan ia tidak bisa mengatur nafasnya sendiri. Imron semakin mengeratkan dekapan tangannya di pinggang Marina dan semakin ganas menciumi bibir ranum tersebut. Cukup lama Imron memagut bibir Marina. Ketika tangan kiri Imron mulai meremasi payudaranya dari balik kemeja, Marina bisa merasakan kalau dekapan Imron menjadi mengendur. Ia pun mengambil kesempatan ini untuk mendorong tubuh Imron menjauh dari tubuhnya.

“Udah dong Pak, saya kan ada urusan penting nih!”.

“Hehehe… maaf Bu, habis Ibu Marina ini benar-benar bikin saya pengen sih”.

Marina melengos dan kembali membalikkan tubuhnya. Namun dengan cepat kembali Imron memegang lengan kirinya dan menahan kepergiannya.

“Apalagi sih Pak!”, Marina membentak.

“Ayo dong Bu, sebentar aja”.

“Nggak bisa Pak, nanti teman-teman curiga kalau saya perginya kelamaan”.

“Saya janji sebentar aja Bu”.

Imron lalu menarik tubuh Marina mendekati tubuhnya. Laki-laki mesum itu kembali berusaha menciumi bibir Marina. Kali ini Marina berusaha menghindar terjangan bibir Imron dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak lama Marin pun kembali bisa mendorong tubuh Imron menjauhi tubuhnya.

“Pak, saya mohon saya sedang ditunggu, saya nggak bisa melakukan semua ini sekarang”.

“Baiklah kalau begitu saya mengalah, tapi setelah semua tugas-tugas Ibu dan teman-teman Ibu selesai, saya mau Ibu menyerahkan diri untuk saya entot, kalau tidak Ibu tanggung sendiri akibatnya”.

“Terserah Bapak saja”.

“Baiklah, kalau begitu setelah tugas-tugas Ibu selesai saya tunggu Ibu di kolam renang kampus”.

“Kolam renang? Kenapa harus disana?”, tanya Marina heran.

“Sudah Ibu datang saja”.

Marina tidak lagi menjawab. Wanita cantik itu kemudian membalikkan tubuhnya dan hendak beranjak pergi. Namun kembali untuk kesekian kalinya Imron mencegahnya dengan cara memegang lengannya.

“Pak, saya harus pergi!”.

“Tunggu dulu dong Bu, saya kan harus meyakinkan dulu kalau Ibu pasti datang menemui saya supaya saya tidak rugi menunggu Ibu”.

“Memang Bapak mau apa?”.

Imron lalu menyambar tas jinjing dalam genggaman Marina. “Tas ini saya sita sebentar sebagai jaminan kalau Ibu pasti datang menemui saya”.

“Jangan tas saya dong Pak! Kan HP juga kunci mobil saya ada di dalamnya”.

“Justru itu Bu, tas ini jadi jaminan yang sangat kuat hehehe…”.

“Ya sudah!”, ucap Marina kesal.

Marina menggigit bibirnya menahan kesal. Kelakuan laki-laki mesum di depannya ini semakin hari memang semakin tidak masuk akal sejak saat pertama kali ia menyerahkan tubuhnya. Marina yang sehari-hari terlihat anggun dan begitu sabar, mau tidak mau terpancing juga emosinya akibat perlakuan Imron. Setiap kali mengingat kejadian hari itu, Marina selalu akan teringat bekas pacarnya yang begitu pengecut menginggalkan begitu saja setelah segala pengorbanan yang ia berikan. Pengorbanan yang begitu besar, pengorbanan yang sangat tidak ternilai harganya, yaitu keperawanannya. Memang Imron-lah yang pertama kali mengambil keperawanannya dan menyeretnya ke dalam lembah nista. Bahkan laki-laki mesum ini pun kemudian tanpa belas kasihan menggilirnya bersama teman-teman mesumnya yang lain. Bayang-bayang kejadian itu akan selalu menjadi mimpi buruk untuk ia kenang.

“Dan satu lagi…”.

“Apa lagi?”.

Imron kembali mendekati Marina. Kini dengan lembut laki-laki mesum itu memeluk tubuh Marina. Kemudian berlahan kedua tangannya menjelajahi permukaan pantat Marina. Marina sendiri nampak sama sekali tidak melawan dan membiarkan tangan Imron menyentuh tubuhnya. Ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan Imron. Wanita cantik itu bisa merasakan tangan Imron terus menjelajahi permukaan pantatnya, kemudian terus turun menuju pahanya dan tangan nakal itu pun terus bergerilya sampai akhirnya berhasil masuk ke dalam roknya. Selain aksi nakal tangan tersebut, Marina juga bisa merasakan desah nafas Imron di permukaan lehernya karena saat ini kepala mereka memang menempel. Marina bisa merasakan tangan Imron meremas-remas bongkahan pantatnya dan sesekali menyentuh permukaan vaginanya dari balik celana dalam.

“Aah…”, Marina hanya bisa mendesah pelan ketika tangan Imron semakin intens merabai selangkangannya.

Ketika Marina semakin terbuai dengan aksi nakal Imron, tiba-tiba ia merasa Imron memegang karet celana dalamnya dan dengan segera menarik turun kain penutup daerah kewanitaannya tersebut.

“Pak Imron mau apa?”, Marina tersentak dan tersadar dari buaian nafsunya. Kemudian dengan refleks ia menahan tangan Imron sehingga celana dalam tersebut tidak semakin melorot turun dari pahanya.

Imron tidak menjawab, dia hanya terus berusaha menurunkan kain mungil berwarna krem tersebut walaupun si pemilik terus berusaha untuk menahan perbuatannya.

“Pak, apa Bapak sudah gila? Hentikan ini!”, keduanya masih saling ngotot. “Pak hentikan!”, Marina terus berusaha menghentikan perbuatan Imron, namun laki-laki mesum itu tetap ngotot berusaha menarik turun celana dalam tersebut.

Setelah cukup lama saling bertahan, akhirnya Marina mengalah dan membiarkan celana dalamnya lolos melewati betis dan kakinya yang jenjang. Wanita cantik itu tahu kalau ia terus bertahan maka kain tipis berukuran mungil itu akan robek dan itu hanya akan memperburuk keadaan.

“Hehehe… Ini juga buat jaminan Bu”.

“Bapak gila ya? Masa saya harus balik ke teman-teman tanpa celana dalam?”.

“Memang kenapa Bu? Toh mereka tidak akan tahu? Kecuali kalau Ibu memang berniat untuk memberitahukannya hehehe…”.

“Kembalikan Pak!”.

Bukannya mendengarkan kata-kata Marina, justru Imron hanya cengengesan lalu membuka resleting tas jinjing Marina dan memasukkan sepotong pakaian dalam itu ke dalamnya.

“Sekarang serahkan bra Ibu! Hehehe…”.

“Apa!”.

Marina seperti terserang petir mendengar kata-kata Imron barusan. Baru saja ia merampas celana dalamnya dengan paksa, kini dengan tenangnya laki-laki mesum itu memintanya menyerahkan bra juga. Sungguh suatu permintaan yang tidak pantas bagi seorang wanita terhormat seperti Marina.

“Ibu mendengar kan kata-kata saya tadi? Saya mau Ibu menyerahkan bra itu”.

“Saya tidak mau!”, Marina menutup dadanya dengan kedua tangannya.

“Terserah Ibu, kalau begitu saya akan mengambilnya juga dengan paksa”.

Imron lalu mendekati Marina dan kemudian dengan kasar berusaha menepis kedua tangan yang menutupi pada daerah dadanya tersebut.

“Hentikan Pak!”.

“Saya tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang saya mau”.

Sesaat Marina memang terus berusaha untuk bertahan, namun karena Imron yang terus menyerang dirinya dengan kasar akhirnya ia pun kembali harus menyerah.

“Iya… iya saya akan serahkan!”.

Imron pun menghentikan serangannya. Kemudian ia menatap mesum kearah Marina yang kini terlihat mulai membuka satu per satu kancing kemejanya. Ketika mencapai kancingnya yang keempat terpampanglah belahan payudara indah Marina dari balik bra berwarna krem yang dikenakannya. Walaupun sebenarnya Marina sudah sering melihat tatapan mesum Imron, namun tetap saja ada perasaan tidak enak setiap kali ia melihat tatapan tersebut. Kemudian dengan cekatan Marina melepaskan kaitan belakang branya dan melepas pakaian dalam tersebut. Setelah itu segera ia menyerahkan bra tersebut kepada Imron dan bergegas mengancingkan kembali kemejanya.

“Hehehe… dari tadi kek Bu, kan kita tidak perlu tarik-tarikan segala”, Imron pun memasukkan bra Marina ke dalam tas jinjing yang dipegangnya. “Nah, kalau begini saya yakin Ibu pasti akan datang hehehe…”.

Marina hanya bisa berdiri kesal mendengar kata-kata Imron.

Setelah itu Imron kemudian dengan santainya beranjak menuju pintu keluar. Laki-laki mesum itu lalu menoleh dan tersenyum. “Ingat Bu, saya tunggu di kolam renang kampus hehehe…”. Setelah itu Imron pun kembali melangkah sambil menandungkan lagu dengan suaranya yang jelas tidak layak untuk didengar.

Marina sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa terhadap segala perbuatan Imron tadi. Kini ia hanya bisa melihat sosok Imron yang menghilang di kegelapan. Tas jinjingnya telah raib dan parahnya lagi begitu pula dengan pakaian dalamnya. Kini tak ada lagi yang bisa wanita cantik itu lakukan selain kembali ke ruangan multimedia, segera menyelesaikan tugas-tugasnya dan setelah itu menemui kembali laki-laki mesum tersebut untuk meminta barang-barangnya kembali. Ia pun dengan gontai melangkah meninggalkan toilet tersebut.

******

“Saya rasa untuk malam ini kita cukupkan dulu sampai disini, besok pagi saja kita lanjutkan apabila memang dirasa masih ada kekurangan”, Pak Gunawan membuka suara.

Memang jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah 9 malam lebih beberapa menit. Sudah cukup malam untuk melakukan aktifitas kampus. Di luar ruangan sendiri sudah terlihat sepi, hanya beberapa mahasiswa aktifis kampus yang masih terlihat berkumpul di sekretariat kemahasiswaan serta beberapa mahasiswa yang terlihat bercakap-cakap sambil menunggu jemputan. Marina dan Sherly merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja komputer sekaligus mematikan komputer di depan mereka. Sedangkan Pak Deddy dan Pak Gunawan sendiri telah terlebih dahulu merapikan berkas-berkas yang tadi mereka kerjakan. Setelah semua beres, mereka pun mulai membereskan barang-barang bawaan mereka masing-masing.

“Ibu Rina, tas Ibu kemana?”.

“Hhhmm… tadi saya sudah taruh barang-barang saya di mobil Bu”, Marina berbohong ketika Sherly menanyakan keberadaan tas jinjingnya. Dalam hati Marina sejak tadi sebenarnya terus menerus mengumpat dan mencaci maki Imron yang membuatnya berada dalam situasi tidak nyaman seperti sekarang. Bagaimana tidak, dinginnya AC ruangan tidak hanya menusuk kulit tubuhnya namun juga begitu terasa menusuk daerah dada dan selangkangannya. Sedari tadi Marina harus berada dalam satu ruangan dengan 2 laki-laki dalam keadaan tanpa penutup apa-apa dibalik pakaian yang dikenakannya saat ini. Walaupun benar kata Imron kalau mereka tidak akan mengetahuinya karena kemaja dan rok yang dikenakannya berwarna gelap, namun tetap saja perasaan risih tersebut tidak bisa diusirnya.

“Oh begitu, saya cuma takut nanti Ibu kelupaan”.

“Terima kasih Bu Sherly”.

“Ibu-ibu mau langsung pulang nih?, Pak Deddy kemudian menyeletuk.

“Sepertinya begitu Pak, memang kenapa?”, Sherly menyahut.

“Tidak apa-apa sih Bu, ya siapa tahu kalau Ibu-ibu tidak berniat langsung pulang mungkin kita bisa pergi minum dulu hehe…”.

Sebagai primadona kampus dari kalangan dosen, baik Marina maupun Sherly memang kerap kali menerima ajakan-ajakan iseng seperti ini. Sebagai seorang wanita tentunya Marina dan Sherly tahu benar kemana arah sebenarnya dari ajakan ini. Apabila laki-laki yang mengajak belum memiliki istri atau pasangan mungkin mereka akan berpikir untuk menerimanya, namun mereka tentu tahu kalau Pak Deddy maupun Pak Gunawan sama-sama telah beristri.

“Aduh maaf Pak, hari ini saya capek banget nih, mungkin Ibu Marina bersedia”.

“Saya juga ada acara sehabis ini Pak, jadi maaf saya juga tidak bisa”.

“Oh tidak apa-apa kok, kan ini cuma iseng aja siapa tahu Ibu-ibu bersedia”, Pak Deddy berusaha tetap menjaga image dengan tidak memperlihatkan ekspresi kekecewaannya.

Setelah mematikan lampu ruangan, mereka berempat pun beranjak keluar dari ruangan tersebut. “Kalau begitu sampai besok semuanya”, Pak Deddy terlebih dahulu meninggal mereka karena ia memang memarkir mobilnya terpisah dari mereka bertiga. Mereka bertiga hanya mengangguk.

“Mau ke parkiran bareng nih? Lumayan tidak aman kalau wanita berjalan sendirian malam-malam gini”, Pak Gunawan berkata kepada kedua wanita di depannya.

“OK deh Pak, yuk Rin”, Sherly mengajak Marina ikut bersama mereka.

“Oh, saya mau ke ruangan dosen sebentar Bu, ada buku saya yang tertinggal”, Marina mencari alasan agar bisa tetap tinggal, karena kita tahu bersama kalau sebenarnya ia harus menemui jagoan kita Imron.

“Ya udah kalau gitu kita duluan ya”, Sherly pun beranjak pergi bersama Pak Gunawan.

Setelah Sherly dan Pak Gunawan menghilang di balik kegelapan lorong kampus, Marina pun beranjak menuju kolam kampus untuk mengambil barang-barangnya yang disita si penjaga kampus mesum. Marina lumayan bergidik untuk pergi ke kolam kampus malam-malam begini. Gedung dimana kolam kampus memang terpisah dengan gedung kampus utama dan merupakan gedung yang berdiri sendiri. Marina memang harus terlebih dahulu keluar dari gedung kampus untuk menuju ke kolam tersebut. Malam-malam begini suasana kampus terasa lebih menyeramkan dibandingkan di dalam kampus. Tak nampak lagi deretan mobil dan motor yang biasa terparkir rapi. Hanya ada satu atau dua mobil dan motor di pelataran parkir. Mungkin pemiliknya masih memiliki urusan sehingga masih harus berada di kampus sampai selarut ini. Marina kian mempercepat langkahnya, sehingga dapat segera sampai di depan gedung dimana kolam kampus berada. Beberapa menit kemudian, Marina sudah terlihat berdiri di depan gedung. Biasanya selarut ini kolam kampus memang sudah terkunci. Marina membuka pintu gedung tersebut, dan rupanya pintu tersebut tidak terkunci. Rupanya Imron memang telah benar-benar mempersiapkan untuk menggiring dirinya ke tempat ini. Berlahan dengan hati-hati Marina masuk ke dalam ruangan. Ruangan tersebut nampak remang-remang karena memang hanya lampu-lampu di pinggir kolam yang menyala, sedangkan lampu utama sudah padam.

“Hai… ada orang!”, teriak Marina yang kini sudah berada beberapa meter dari kolam. Tak ada jawaban, yang terdengar hanya feed back suaranya sendiri yang menggema. “Pak Imron…!”, kembali Marina berteriak. Kembali tak terdengar jawaban.

Marina menyapu pandangannya sekeliling ruangan tersebut. Kini matanya mulai beradaptasi dengan kegelapan ruangan, namun sama sekali tidak terlihat sosok penjaga kampus mesum yang dicarinya. Tiba-tiba saja sebuah tepukan mendarat di pundak Marina.

“Aaaa…”, kontan Marina berteriak karena terkejut.

“Hehehe… kaget ya Bu? Ini saya kok”.

Marina langsung membalik tubuhnya setelah mendengar suara laki-laki yang sangat dikenalnya, sekaligus sangat dibencinya. “Tadi kan saya sudah bilang Pak, jangan bikin saya kaget kayak gitu lagi, saya bisa jantungan!”, omel Marina.

“Maaf Bu, saya kan cuma pengen mainin Ibu saja hehehe…”.

Marina nampak mengelus-elus dadanya yang terlihat naik turun tidak teratur akibat dikejutkan oleh Imron tadi.

“Mana barang-barang saya?”.

“Ntar dulu dong Bu, kita kan belum ngapa-ngapain”.

“Maksud Bapak?”.

“Kan kita belum ngentot Bu hehehe…”.

Marina benar-benar merasa terhina dengan kata-kata Imron tadi. Kata-kata itu benar-benar melecehkan dirinya sebagai wanita terhormat dan terpelajar. Laki-laki mesum itu berkata seolah-olah dirinya tak ada bedanya seperti pakaian yang bisa ia pakai dan setelah bosan dapat dicampakkan begitu saja.

“Jangan kasar gitu dong ngomongnya Pak”.

“Kasaran mana saya sama Ryan, pacar Ibu yang pengecut itu?”.

Ekspresi wajah Marina langsung berubah kecut mendengar sebuah nama yang disebutkan Imron tadi. Entah kenapa setiap kali mendengar nama itu gejolak emosi dan amarah Marina selalu bangkit. Nama yang begitu ingin ia buang jauh-jauh dari dalam otaknya. Nama seorang laki-laki yang tidak tahu terima kasih. Laki-laki yang tidak tahu diri yang seenaknya saja meninggalkan dirinya setelah segala pengorbanan yang ia berikan. Pengorbanan yang sangat tidak ternilai, yaitu keperawanannya. Pengorbanan yang akan sangat ia sesali seumur hidupnya.

Imron benar-benar tahu kelemahan wanita cantik ini. Begitu emosi dan amarah itu mulai bergejolak, maka akan mudah pula untuk menggiring birahi wanita cantik tersebut untuk ikut bergejolak. Imron tersenyum kecil melihat tubuh Marina yang mulai terlihat bergetar menahan amarah.

Imron pun melanjutkan kata-katanya. “Sangat tidak adil bukan ketika saat ini Ibu begitu menjaga kehormatan dan harga diri Ibu, sementara mantan pacar Ibu yang tidak tahu diri itu mungkin saja saat ini sedang bercumbu mesra dengan pacarnya yang baru”, Imron berbicara sambil berjalan memutari wanita cantik itu dengan berlahan. “Tidak adil kan Bu? Lalu apa salahnya kalau Ibu juga melakukan hal yang sama? Apa salahnya kalau Ibu juga membuang jauh-jauh kehormatan dan harga diri yang selalu Ibu junjung tinggi itu?”.

Kata-kata Imron benar-benar menghipnotis alam bawah sadar Marina. Rasa bencinya terhadap Ryan berlahan-lahan mulai meracuni akal sehat wanita cantik tersebut. Bahkan rasa benci dan dendam tersebut membuat Marina sama sekali tidak menolak ketika dari belakang Imron mulai memeluk tubuhnya dan merabai sekujur tubuhnya. Wanita cantik itu merasa kata-kata Imron tadi ada benarnya. Mungkin saja saat ini mantan kekasihnya itu sedang bercumbu dengan wanita lain, lalu kenapa ia tidak boleh melakukan hal yang sama? Akhirnya ketika amarah kian menguasai dirinya, Marina pun tidak kuasa untuk membalas pagutan Imron yang berdiri di belakangnya. Marina membalikkan tubuhnya agar memudahkan mereka untuk berciuman bibir sambil berpelukan. Imron mendorong pelan tubuh Marina sehingga tubuh sintal tersebut bersandar di tembok ruangan. Pagutan bibir pun kini terlihat semakin liar terjadi antara keduanya. Sebenarnya Imron bisa saja menaklukkan Marina ketika berada di toilet tadi, namun bukan Imron namanya jika ia melakukan hal seperti itu. Selalu menjadi ciri khas Imron untuk selalu memainkan psikologis korban-korbannya terlebih dahulu sebelum melakukan eksekusi. Menikmati kehangatan tubuh seorang wanita yang telah terganggu psikologisnya terasa begitu nikmat baginya, karena umumnya sisi liar sang wanita terkuak dan permainan pun akan semakin mengasyikkan. sebagaimana Marina saat ini. Bagaimana seorang wanita alim, anggun dan cantik bisa terlihat begitu liar dan ganas menciumi bibir Imron bak seorang wanita haus belaian. Ini adalah akibat rasa amaran yang terkulminasi menjadi gelora birahi yang begitu menggila.

“Aaah…tubuh Ibu masih saja wangi seperti terakhir kita ngentot”, Imron berbisik di telinga Marina setelah beberapa saat lalu menelusuri leher dan pundaknya.

“Oohh..”, Marina hanya melenguh pelan karena desahan Imron terasa geli dan nikmat di sekujur tubuhnya.

Mereka pun kembali berciuman. Marina memejamkan matanya dan ekspresi wajahnya memancarkan kenikmatan dan kepasrahan yang luar biasa. Mau tidak mau, suka tidak suka, tubuh Marina memang merindukan sentuhan laki-laki karena sejak putus dengan mantan kekasihnya ia memang belum sama sekali tertarik untuk menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Rupanya sakit hati akibat percintaan cukup membekas di hati wanita cantik tersebut.

“Ooohh… oohh…”, tangan Imron terus membelai sekujur tubuh wanita cantik tersebut. Sambil berciuman tangan Imron mulai bergerilya melepasi satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Marina. Marina yang kini mulai terbakar birahi membiarkan Imron melakukan aksinya sampai akhirnya kancing terakhir terbuka. Tangan Imron pun kini dapat menggenggam kembali payudara padat dosen cantik tersebut.

“Masih tetap kenyal dan padat!”, Imron berkomentar ketika tangannya semakin gencar meremasi bongkahan daging montok Marina.

“Aaaoo…!”, Marina mendesah lirih ketika Imron memilin puting kanannya.

“Pernah ada lagi selama ini yang mengenyot toket Ibu selain saya?”.

Marina hanya menggeleng pelan. Imron lalu mengulum dan menjilati payudara kiri Marina, sementara kedua tangannya melepaskan kemeja wanita cantik tersebut. Kini tubuh atas Marina pun terekspos dengan bebasnya, karena sebelumnya branya telah direnggut paksa oleh Imron.

“Aaah… aaahhh…”, Marina semakin terbuai oleh permainan lidah dan mulut Imron di kedua payudaranya secara bergantian.

Puas bermain dengan kedua payudara dosen cantik tersebut, Imron kembali mengincar bibir lembut Marina. Kini kembali keduanya saling pagut dan saling mengadu lidah.

“Kalau memek ini pernah ada yang memakainya?”, bisik Imron setelah tadi ia menjilati leher dan telinga Marina.

“Nggak… nggak ada”.

“Artinya semuanya masih tetap sama seperti terakhir saya ngentotin Ibu?”.

“I… iya”, Marina berusaha membagi konsentrasi antara menjawab pertanyaan Imron dengan rasa nikmat ketika penjaga kampus mesum itu mengobok-obok vaginanya.

Tangan kanan Imron memang saat ini sudah masuk ke dalam rok span Marina. Sambil tetap berpagutan bibir, laki-laki itu dengan leluasa dapat memainkan jari-jari tangannya di permukaan vagina Marina. Hal ini karena sebelumnya Imron memang telah “mengamankan” celana dalam dosen cantik tersebut. Imron bisa merasakan bulu-bulu di permukaan vagina tersebut terasa bsah dan lembab. Entah dari kapan cairan kewanitaan Marina mulai mengalir keluar, yang jelas Imron merasa saat ini wanita cantik tersebut sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Tangan-tangan nakal Imron pun kini mulai melepaskan kaitan rok span yang dikenakan Marina. Sedetik kemudian rok span pendek itu pun meluncur turun ke lantai. Kini Marina sudah sepenuhnya telanjang, sedangkan Imron sendiri masih berpakaian lengkap. Tiba-tiba ketika mereka berdua sedang asyik bercumbu terdengar suara laki-laki dari belakang Marina.

“Ron, gue udah nggak tahan sembunyi terus nih, gue udah nganceng banget ngeliatin body si Ibu dosen ini”.

“Aaaakkhh…!”, Marina berteriak setelah menyadari kalau di ruangan ini ternyata ada laki-laki lain selain Imron. Marina pun dengan refleks melepaskan dekapan Imron dan segera bersembunyi di belakang tubuh Imron. sebagai wanita normal tentunya Marina merasa perlu menutupi tubuh telanjangnya dari mata laki-laki yang tidak ia berikan hak untuk itu.

Dari balik tubuh Imron wanita cantik itu bisa melihat seorang laki-laki berwajah sangar sedang berdiri di hadapan Imron dan dirinya. Tubuh Marina bergetar hebat karena melihat perawakan laki-laki tersebut yang benar-benar buruk rupa dan bengis. Dan yang paling membuatnya ketakutan adalah ketika melihat laki-laki itu hanya mengenakan kaos kusam lusuh, tanpa mengenakan pakaian tambahan apa-apa lagi. Di bawah sana mengacung sebuah batang tegang yang berukuran jumbo. Tubuh Marina pun bergetar melihat pemandangan tersebut. Imron bisa merasakan getaran tangan Marina yang memegang pundaknya. Penjaga kampus itu pun hanya tersenyum kecil.

“Tenang Bu, itu Abdul, dia penjaga kolam ini, dia juga mau gabung ama kita-kita kok”.

“Mak… maksud Bapak?”, suara Marina terdengar bergetar.

“Maksud saya, kita akan main keroyokan Bu, seperti yang terakhir kali kita lakukan itu lo, Ibu pasti masih ingat hehehe…”.

Marina bergidik mendengar kata-kata Imron tadi. Pikiran dosen cantik itu pun mengalami flash back ketika ia mengalami pelecehan untuk pertama kalinya. Saat ini Kahar dan Encep si satpam kampus, Gufron si penambal ban, serta Imron telah memperkosanya. Hari itu juga Marina tidak hanya kehilangan keperawanannya, namun juga kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat. Kehidupannya sebagai warga kampus normal pun berubah 180 derajat, dari seorang dosen terpelajar menjadi seorang budak seks pemuas birahi. Memang sejak hari itu Marina telah “resmi” menjadi budak seks Imron cs. Sungguh pengalaman yang menakutkan sekaligus tak terlupakan. Menakutkan karena merasakan sakitnya diperawani sekaligus diperkosa di waktu yang sama, namun juga tak terlupakan karena sensasi yang di alami oleh Marina waktu itu sungguh luar biasa (baca Nightmare Campus 13: The Ungrateful).

“Jangan Pak, saya mohon jangan lakukan itu lagi”.

“Kenapa Bu? Bukankah waktu terakhir Ibu di gangbang Ibu terlihat begitu menikmatinya? Hehehe…”.

“Nggak Pak!”.

Imron membalikkan tubuhnya. Mereka pun kini berhadapan dan Imron mengangkat dagu Marina.

“Mulut Ibu mungkin bisa terus berkata tidak, tapi saat itu tubuh Ibu sama sekali tidak bisa berbohong”.

“Jangan Pak, jangan…”, Marina berkata lirih sambil menggeleng pelan.

“Ibu saat ini tidak dalam posisi bisa memilih, Ibu saat ini berada pada posisi harus menuruti kata-kata saya”.

“Pak, saya mohon jangan…”.

Imron terlihat sama sekali tidak memperhatikan permohonan Marina. “Sekarang Ibu dekati Abdul dan serahkan tubuh Ibu sepenuhnya untuk dia”.

Marina benar-benar tersentak mendengar kata-kata Imron tadi. Mata indah Marina nampak mulai berkaca-kaca. Mendengar kata-kata Imron dirinyabenar-benar  merasa telah begitu direndahkan, bahkan lebih rendah dari seorang pelacur sekalipun. Bagaimana mungkin penjaga kampus ini seenaknya meminta dirinya untuk bersetubuh dengan seorang laki-laki yang saat ini baru ia temui untuk pertama kalinya? Ini jelas adalah sesuatu yang gila dan di luar akal sehat. Bagaimana pun dirinya ini adalah seorang dosen, bukanlah seorang pelacur.

Melihat Marina yang masih berdiri di posisinya, Imron terlihat mulai gusar.

“Jadi Ibu menolak? Apa Ibu ingin merasakan apa yang bisa saya perbuat kepada Ibu di kampus ini? Ibu tentu masih ingat dengan kejadian di hari itu, saat pertama kali kita ngentot? Saya bisa membawa teman-teman saya lebih banyak lagi dibandingkan hari tersebut untuk mengeroyok Ibu? Jadi tolong jangan menguji kesabaran saya”, kata-kata Imron terdengar serius.

Marina yang mulai sedikit terisak, benar-benar takut mendengar ancaman Imron. Pikiran dosen cantik ini kembali melayang ke hari dimana semua mimpi buruk ini bermula. Saat itu ada empat laki-laki sangar dan berwajah tak sedap dipandang yang menyetubuhinya secara brutal. Jika ancaman Imron tadi benar adanya, maka ini berarti ia akan membawa teman-temannya lebih dari empat orang untuk menggarapnya. Melayani empat orang sekaligus saja, tenaganya seperti tersedot bagaimana ia harus melayani lebih dari itu? Jika dipikirkannya kembali, tentunya saat ini keadaannya jauh lebih baik karena ia hanya harus melayani dua laki-laki saja. Namun walau demikian tetap saja, satu laki-laki sama sekali tidak ia kenal dan ini berarti satu lagi penis laki-laki asing akan terbenam ke dalam lubang vaginanya.

“Bagaimana Bu? Masih mau menolak?”.

Marina pun menggeleng.

“Hahaha… bagus! Kalau begitu sekarang segera Ibu melayani Abdul dan juga saya dengan pelayanan terbaik Ibu”. Imron tersenyum penuh kemenangan. “Sekarang lupakan kalau Ibu adalah seorang dosen, saat ini Ibu adalah seorang perek yang akan bertugas melayani langganannya. Ibu mengerti?”.

“I… iya”, Marina menjawab singkat.

“Sekarang ulangi kata-kata ini, saya adalah seorang pelacur!”.

Setetes air mata mengalir dari ujung mata indah Marina. “Sa… saya adalah seorang pelacur”.

“Pelacur yang doyan ngentot!”.

“Pe… pelacur yang… yang doyan ngen… ngentot”, ucap wanita cantik tersebut terbata.

“Malam ini saya bertugas memuaskan tuan berdua”.

“Ma… malam ini saya bertugas me… memuaskan tuan ber… berdua”.

“Hahaha… bagus! Benar-benar perek yang penurut, sekarang laksanakan tugas lu sebagai seorang perek!”, kini Imron mulai bertingkah seperti seorang majikan yang sedang memerintah kepada budaknya.

Ketika Marina hendak berjalan menuju Abdul tiba-tiba Imron berteriak, “Eh… mau kemana lu? Setiap gue memerintah, lu harus selalu nyaut “baik tuan!”, ngerti lu?”.

Kini Marina sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia pun akhirnya terisak. Saat ini dirinya benar-benar merasa terhina lahir dan batin.

“Eh, malah nangis! Lu ngerti nggak ama yang tadi gue bilang?”.

“I… iya”.

“Iya apa?”, bentak Imron.

“I… iya tuan!”.

“Bagus… sekarang laksanakan tugas lu!”, perintah Imron baik seorang mandor yang sedang memerintahkan pekerjanya.

“Ba… baik tuan!”.

Marina pun kini tidak malu-malu lagi dengan ketelanjangannya. Kini ia sadar sepenuhnya kalau dirinya hanyalah seorang budak di kampus ini. Daripada harus mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan, akan terasa lebih baik apabila ia menuruti saja kata-kata penjaga kampus mesum di hadapannya. Wanita cantik itu kini terlihat berjalan pelan mendekati Abdul. Melihat Marina yang berjalan dalam keadaan telanjang membuat mata Abdul terbelalak lebar. Di matanya kini tergambar seorang bidadari yang turun dari khayangan dan khusus diturunkan untuk melayaninya. Sungguh sebuah tubuh yang begitu sempurna tanpa cela. Sedangkan di belakang wanita cantik tersebut Imron berjalan mengikutinya.

Begitu berada di depan laki-laki paruh baya itu, kembali Imron memberi perintah. “Sekarang lu ambil tangan Abdul terus lu memohon ama dia untuk meremas-remas toket lu!”.

Ingin sekali Marina menampar Imron atas perlakuannya ini, namun wanita cantik itu tahu ia tidak bisa melakukan hal tersebut. Marina pun akhirnya menurut dan mengambil kedua tangan Abdul kemudian meletakkannya pada kedua payudaranya. “Tolong remesin toket saya tuan!”.

Abdul yang memang sejak tadi telah terbakar birahi dengan semangat memenuhi “permintaan” Marina. Kedua tangan kasar itu pun dengan geregetan meremas-remas kedua bulatan gading kenyal tersebut. Marina hanya sesekali terlihat meringis ketika Abdul terlalu keras melakukan remasan.

“Toket lu bener-bener mantap! Hehehe…”, Abdul yang memang tidak berpendidikan tidak segan mengeluarkan kata-kata kasar di hadapan Marina, padahal ia tahu benar kalau yang berada di hadapannya ini adalah seorang dosen.

“Aaahh…”, desah Marina pelan ketika Abdul mulai memilin-milin puting payudaranya.

Wanita cantik itu benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi selain memasrahkan diri. Ia hanya bisa membiarkan tangan-tangan kasar Abdul memainkan bukit kembarnya. Marina juga tidak bisa melakukan apa-apa ketika dari belakang tangan Imron juga ikut meremas-remas bongkahan pantat sekalnya. Ia pun hanya bisa menahan rasa geli yang mulai menjalari tubuhnya. Imron lalu membalikkan wajah Marina dan kembali menciumi bibir lembut wanita tersebut. Ketika mereka berdua berciuman dibawah sana Abdul sedang berjongkok dan memandang nanar ke arah vagina Marina yang tertutupi oleh bulu-bulu hitam. Laki-laki paruh baya itu dengan nakal meraba-raba lubang kenikmatan tersebut. Jari-jarinya terasa basah dan lembab akibat cairan yang mulai keluar dari dalamnya. Abdul benar-benar mengagumi vagina Marina yang sama indahnya dengan vagina Devi yang pernah beruntung ia cicipi (baca Nightmare Campus 10: The Pool). Namun kali ini sensasi yang muncul sedikit berbeda, karena Devi adalah seorang mahasiswi sedangkan Marina adalah seorang dosen. Ya, dosen! Deam… Abdul pun merasa kalau saat ini ia adalah the luckies man a live in this campus. Celana Abdul pun terasa semakin sesak saat ini

“Hhhhmmm…!”, Marina berteriak tertahan ketika Abdul memasukkan dua jarinya ke dalam lubang vaginanya. Suara teriakan dosen cantik itu tidak bisa keluar karena di dalam mulutnya kini menari-nari lidah Imron.

Marina tidak bisa berkonsentrasi menerima lumatan bibir dan remasan tangan Imron di payudaranya, karena lesakan jari-jari tangan Abdul di vaginanya lebih menimbulkan kenikmatan. Jari-jari laki-laki berwajah sangar itu terasa begitu kasar mengocok-ngocok vaginanya, namun Marina justru menyukainya. Hal ini mungkin karena jangka waktu persetubuhannya terakhir dengan Imron memang sudah cukup lama, sehingga vaginanya kini sudah terlihat begitu merindukan sensasi nikmatnya kocokan batang penis.

“Ron, ni cewek memeknya udah basah banget, gue udah sange nih buat ngentotin ni memek”, ucap Abdul seenaknya sambil masih mengocok vagina Marina.

“OK deh lu ngentot duluan deh”, sahut Imron setelah melepas pagutan bibirnya. “Sekarang lu layani Tuan Abdul duluan, nanti baru lu melayanin gue”, bisik Imron di telinga Marina.

Marina pun menurut. Ia kemudian mendekati Abdul yang telah selesai melepaskan kaosnya dan kini hendak melepaskan celana pendek yang dikenakannya. Tiba-tiba Imron memegang lengan Marina sebelum wanita cantik itu sempat melangkah. “Eh, ingat! Berikan pelayanan terbaik lu dan buat kita-kita puas, lu harus ingat kalau sekarang lu adalah perek kita!”.

Marina tidak menjawab, ia hanya melanjutkan langkahnya. Dosen cantik itu kini bisa melihat Abdul telah berdiri dalam keadaan telanjang bulat. Tubuh laki-laki paruh baya itu terlihat agak bungkuk. Wajahnya yang sangar membuat Marina merinding. Namun yang paling membuat Marina merinding adalah batang penis yang mengacung tegang di selangkangan laki-laki tersebut. Batang penis itu begitu besar dan kokoh. Marina pun terpaksa meringis kecil membayangkan apa yang mungkin sebentar lagi mendera vaginanya.

“Tuan mau ngentot sekarang?”, ucap Marina pelan. Ingin sekali ia mengutuk dirinya sendiri karena dari mulutnya keluar kata-kata sehina itu.

Abdul mengangguk yakin. Tiba-tiba saja setelah itu Abdul langsung mendekap Marina dan menyerang bibir wanita cantik tersebut dengan ciuman ganas. Marina yang terkejut dibuat gelagapan. Belum lagi bau mulut Abdul yang menyengat kian menyulitkan Marina untuk bernafas. Beruntung semua itu tidak berlangsung lama karena kemudian Abdul mengalihkan serangannya ke kedua payudara montok dosen cantik tersebut.

“Aduh!”, Marina mengerang akibat Abdul yang terlalu kencang menggigit puting kanannya. “Aaakkh…!”, kembali Marina harus meringis akibat sedotan Abdul yang kasar.

“Pelan-pelan dong Dul, jangan grasa-grusu, perek kita ini nggak sedeng buru-buru kok, betul nggak? Hehehe…”, Imron nampak cengengesan sambil menepuk pundak Abdul.

“Sory Ron, abis tumben-tumbenan nih gue bisa ngentotin dosen hehehe…”.

Imron lalu merabai selangkangan Marina. Terasa sekali lubang yang ada di daerah itu semakin basah dan banjir oleh cairan kewanitaan.

“Wah udah basah banget nih! Sekarang mending lu cepet-cepet isep kontol si Abdul, biar lu juga cepet-cepet bisa dipuasin ama dia”.

Wajah Marina langsung memerah mendengar kata-kata Imron. dadanya terasa begitu sesak akibat tidak kuat menahan hinaan demi hinaan yang terus merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Namun Marina tidak melawan balik. Ia hanya langsung berjongkok di depan selangkangan Abdul.

“Eh perek! Minta ijin dulu kalo mau nyepong kontol orang!”, bentak Imron yang melihat Marina hendak memasukkan batang penis Abdul ke dalam mulutnya.

Ingin sekali Marina mendengar perkataan tersebut.

“Sa… saya isep kontolnya ya tuan?”.

“Nah gitu dong! Hehehe…”, Imron tertawa puas.

“Boleh… boleh… boleh…”, sahut Abdul sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Batang penis Abdul pun kini sudah terlihat terkocok di dalam mulut Marina. Dengan cekatan dosen cantik itu memberikan pelayanan oral kepada di penjaga kolam. Sesekali tangan Marina mengocok-ngocok batang penis tersebut ketika ia memainkan lidahnya pada zakar Abdul. Mau tidak mau Marina harus mengakui kebenaran kata-kata Imron kalau saat ini vagina sudah begitu basah dan gatal merindukan hujaman penis. Apalagi penis yang kini sedang ia service ukurannya benar-benar jumbo, tidak kalah dengan milik Imron. Tentu akan terasa nikmat jika penis ini mengaduk-aduk vaginanya, pikir sisi liar Marina. Walaupun dalam keadaan terisak, namun Marina justru terlihat begitu “semangat” mengulum dan menjilati batang penis di genggamannya. Imron tersenyum mesum melihat Abdul merem melek akibat pelayanan Marina. Laki-laki mesum itu pun melepaskan satu per satu pakaiannya. Agaknya di dalam pikiran Imron ini adalah saat yang tepat untuk menikmati tubuh indah sang dosen cantik.

“Perek! Sekarang giliran kontol gue yang lu isep!”.

Marina pun melepaskan batang penis Abdul dari dalam mulutnya. Ia pun berbalik untuk memberikan pelayanan bagi Imron. Batang penis yang tak kalah besarnya pun kembali mengisi mulut Marina. Berbeda dengan Abdul yang terkesan pasif, Imron terlihat aktif mengocok-ngocokkan batang penisnya ke dalam mulut Marina. Wanita cantik itu pun berusaha bertahan agar tidak tersedak karena beberapa kali ujung penis Imron terasa menyentuh kerongkongannya.

“Hhm… hhmm… hhmm…”, desahan Marina terdengar tertahan kocokan penis Imron di mulutnya. Apalagi kini laki-laki mesum itu memegang kepalanya sehingga Marina sama sekali tidak bisa menggerakkan kepalanya. Akibatnya wanita cantik itu pun dibuat megap-megap sewaktu menarik nafasnya.

“Hhm… hhmm… hhmm…”, desahan Marina terdengar semakin menjadi ketika ia merasakan sapuan lidah di permukaan vaginanya. Apalagi ketika lidah itu dengan nakal menusuk-nusuk lubang vaginanya, Marina pun dibuat semakin kebingungan membagi konsentrasi.

Diserang dari dua tempat seperti ini membuat gairah Marina naik semakin tinggi. Ia sudah tidak tahan lagi untuk bisa di setubuhi. Ia ingin sekali digenjot penis saat ini juga.

“Dul, jangan diisep aja tuh memek, buruan lu kocok tu memek!”.

Entah saat ini pikiran Marina sudah hilang kesadaran atau memang dirinya sudah gila akibat birahi, namun yang jelas kata-kata Imron tadi terdengar begitu indah di telinganya. “Iya kocok memekku, kocok yang kenceng, masukin yang dalem”, teriak Marina di dalam hatinya. Nafsu telah benar-benar menguasai dirinya saat ini.

Abdul yang memang sejak tadi ingin merasakan bagaimana nikmatnya vagina ranum Marina, langsung saja berdiri dan mengacungkan batang penisnya. Ujung batang penis tegang, kokoh dan panjang itu kini mengusap-usap permukaan vagina wanita cantik tersebut. Marina pun kian tak tahan menanti saat-saat Abdul akan menghujamkan penisnya.

“Hhhhmmm…!”, Marina mengerang panjang. Batang penis Abdul melesak masuk ke dalam lubang kenikmatannya.

Kini Marina harus melayani dua penis sekaligus. Satu mengocok mulutnya dan satu lagi menghujam kencang ke dalam vaginanya.

“Aaah… gile Ron, memek ni cewek mantap banget jepitannya, kayak perawan aja!”.

“Hahaha… iya dong, pinter kan gue nyari mangsa?”.

“Lu emang top Ron, salut gue ama lu aahh…”.

“Udah entot aja tu memek ampe lu puas hahaha…”.

“Legit banget Ron, sama ama memek cewek yang lu ajak kemari terakhir”.

“Oh, Devi? Iya tuh, kalo udah urusan ngentot emang nggak ada bedanya tuh antara dosen ama mahasiswa hahaha…”.

“Aaahh… sering-sering dong lu bawa cewek kesini Ron”.

“Tenang aja Dul, kapan-kapan gue bawain lu cewek lagi”.

Dua penjahat kelamin itu saling bercakap-cakap sambil terus menghujam-hujam penis mereka masing-masing. Untungnya Marina tidak berkonsentrasi mendengarkan percakapan tersebut. Jika ia mendengarnya tentunya ia akan kembali merasa kalau harga dirinya kembali terinjak-injak. Marina saat ini terlalu sibuk merasakan kenikmatan genjotan penis Abdul di vaginanya. Penis besar itu terasa begitu sesak membuka dinding vaginanya. Gesekan demi gesekan penis itu pun semakin membawa dosen cantik itu terbang terbuai ke dalam gelora nafsu birahi.

“Ooohh… nikmat bener!”, rancau Abdul sambil terus menggenjoti vagina Marina.

Imron sendiri kini telah melepaskan batang penisnya dari dalam mulut dosen cantik tersebut. Marina pun kini dapat leluasa menarik nafas, walaupun masih nampak terengah-engah karena genjotan kencang penis Abdul di

“Aaakkh… oohh…”, kini Marina dapat dengan bebas berteriak dan mengekpresikan kenikmatan yang ia peroleh dari Abdul. Marina seakan tidak peduli kalau teriakannya tersebut menggema di seluruh ruangan, toh hari sudah larut malam sehingga tidak perlu takut ada yang mendengar teriakan penuh nafsunya.

“Gimana perek? Lu suka genjotan si Abdul?”, Imron menengadahkan kepala Marina sehingga mata mereka saling memandang.

Marina hanya mengangguk pelan. Pandangan matanya terlihat begitu sayu.

“Udah mulai doyan kontol nih perek kita satu ini Dul! Hahaha…”.

Imron meremas-remas kedua payudara Marina yang nampak menggantung.

“Hehehe… iya Ron, pantatnya ikut goyang waktu gue sodokin”, ucap Abdul sambil meremas-remas pantat sekal Marina.

“Aaakkh… oohh… aaaah…”, Marina seakan tidak peduli dengan kata-kata dua laki-laki cabul yang kini sedang menikmati kehangatan tubuhnya ini.

Walaupun keduanya kini sedang merendahkan dirinya, namun yang ada di benaknya kini hanyalah mencapai klimaks yang sudah sangat lama tidak dirasakannya lagi. Abdul membalikkan tubuh Marina, sehingga kini wanita cantik itu terbaring di atas lantai ruangan. Sejenak Marina merasakan dinginnya lantai menusuk pundaknya. Namun itu hanya sekejap karena setelah Abdul kembali menghujamkan penisnya rasa dingin tersebut pun sirna. Di tengah genjotan Abdul, Imron mengambil tangan Marina dan membuat jari-jari lentiknya menggenggam batang penisnya. Imron pun lalu membuat tangan Marina mengocok-ngocok batang penisnya. Kembali kini dosen cantik itu harus membagi konsentrasinya.

“Aaahh… gue mau ngencret nih!”.

“Tahan dulu Dul, ni perek juga kayaknya udah mau nyampe juga, liat nih mukanya udah merah banget hahaha…”.

Memang saat ini Marina merasakan adanya sesuatu yang akan meledak di dalam dirinya. Sesuatu yang hebat yaitu pencapaian klimaks. Tubuh sintalnya mulai nampak menegang, kepalanya mendongak keatas, sementara kedua matanya terpejam dan mulutnya membuka lebar. Melihat ciri-ciri tersebut Imron pun melepaskan genggaman tangan Marina di penisnya.

“Dikit lagi Dul, dikit lagi nih!”.

Abdul pun kian mengencangkan genjotan penisnya, sambil menahan gelombang dasyat yang kini menggantung di ujung penisnya.

“Aaaakkhh….!”, Marina pun berteriak kencang. Ia mencapai klimaks!

Beberapa detik kemudian giliran Abdul yang berteriak, “Ooohhh…!”.

“Crooot… croot…”, dua kali semburan sperma sempat masuk ke dalam vagina Marina sebelum Abdul sempat menarik batang penisnya. Semprotan sisa pun mendarat di perut dan payudara serta sedikit mengenai wajah cantik Marina.

Abdul terduduk lemas di samping Marina, sedangkan dosen cantik itu terlihat masih terbaring di lantai dengan nafas ngos-ngosan. Marina terlihat menikmati betul sensasi klimaks yang baru saja ia rasakan. Imron mengelus-elus rambut Marina yang telah basah oleh keringat. Sebersit senyum mesum tersungging di wajah buruk rupanya. Dulu kita pertama kali bertemu dengan Marina, ia adalah seorang dosen yang cantik, anggun, feminim dan ramah. Kini berlahan tapi pasti Imron berhasil merubah Marina menjadi seorang budak yang penuh nafsu dan selalu haus akan seks. Kini dosen cantik itu pun seakan-akan hidup dalam dua kepribadian yang berbeda. Imron lalu membuka kedua kaki Marina lebar-lebar. Terlihat masih ada sperma Abdul mengalir keluar dari dalam lubang kewanitaannya.

“Gile lu Dul, memek ni perek jadi belepotan gini! Trus gue gimana makenya nih?”.

“Sorry Ron, gue nggak kuat nahan waktu terakhir, abis ni cewek memeknya kenceng banget jepitannya kayak memek ABG”.

“Dasar lu, nggak pernah make barang bagus sih”.

Imron lalu berdiri kemudian mengangkat tubuh Marina dalam gendongannya. Marina yang masih terbuai dalam puncak permainan nampak hanya pasrah tubuh telanjangnya digendong oleh Imron. Sambil menggendong tubuh Marina penjaga kampus mesum itu lalu berjalan menuju kolam dangkal. Di sana ia lalu berlahan-lahan menurunkan tubuh Marina ke dalam kolam.

“Sssshhh…”, keluar suara desisan dari mulut Marina karena malam itu air kolam memang terasa cukup dingin.

Dengan menggunakan air kolam Imron membersihkan wajah, payudara dan perut Marina yang tadi belepotan sperma Abdul. Marina sendiri sudah mulai membuka matanya walaupun belum sepenuhnya.

“Aaahh…”, kembali Marina mendesah pelan ketika Imron merabai permukaan vaginanya. laki-laki itu mencoba membersihkan sisa-sisa lelehan sprema yang masih tersisa disana. Setelah tubuh berikut selangkangan dosen cantik itu bersih, kini Imron kembali membuka lebar kedua kaki Marina.

“Sekarang lu rasain nih barang gue hehehe…”.

Tak lama setelah selesai berbicara, tanpa bertanya apakah Marina siap atau tidak Imron langsung melesakkan batang penisnya ke dalam lubang vagina wanita cantik tersebut.

“Aaakkkhh…!”, Marina berteriak kencang. Dirinya yang belum sepenuhnya siap menerima serangan Imron merasakan batang penis besar milik laki-laki tersebut membuka paksa dinding vaginanya.

Namun ketika Imron mulai menggenjot penisnya, rasa sakit tersebut berlahan berganti menjadi rasa nikmat yang teramat sangat. Marina pun hanya bisa memeluk Imron sementara laki-laki itu dengan perkasa menghujam-hujamkan lubang kenikmatannya. Walaupun baru saja mencapai klimaks namun Marina masih terlihat mampu melayani permainan Imron. Rupanya dibalik perawakannya yang lembut dan polos, tersimpan sisi gelap Marina yang memiliki stamina luar biasa dalam bercinta.

“Lu masih kuat ngentot kan?”.

“I… iya”.

“Lu masih pengen kontol kan?”, Imron masih terus memainkan psikologis Marina dan membuatnya percaya kalau saat ini dirinya adalah seorang pelacur yang dilanda birahi.

“I… iya”, tubuhnya yang berguncang membuat suara Marina terdengar bergetar.

“Gimana lu suka kontol gue?”.

“Su… suka!”.

“Bilang kalo lu suka kontol gue, bilang kalo lu mau gue entot kapan aja!”.

“Sa… saya suka kon.. kontol tuan aakkhh…!”, Marina kembali berteriak saat Imron dengan kasar menghujamkan penisnya.

“Apa lagi?”.

“Aaakkh…. sa… saya mau di… dientot trus-trusan!’.

“Hahaha… lu emang perek gue yang paling penurut”.

Abdul yang sejak tadi hanya melihat adegan persetubuhan antara Imron dan Marina, kini kembali terpancing birahinya melihat tubuh molek Marina. Penisnya yang semula menciut kini mulai nampak menegang melihat kedua payudara Marina yang terguncang hebat. Perlahan laki-laki buruk rupa itu pun mendekati kolam.

“Ron, gue ikutan lagi ya?”.

Imron yang tadinya berkonsentasi merasakan nikmatnya jepitan vagina Marina, menoleh ke arah Abdul yang telah berdiri di pinggir kolam.

“Emang lu masih kuat Dul?”.

“Masih lah Ron, ngeliat bodi ni cewek kontol gue tegang lagi nih”.

“Dasar lu, muka kontol banget! Hahaha…”, Imron sejenak menghentikan genjotannya. “Ya udah kita garap bareng aja ni perek”.

Imron kemudian membalikkan tubuh Marina dan membuat posisi wanita itu menungging. Marina langsung terbelalak karena di depannya kini sudah menunggu batang penis Abdul yang sudah nampak kembali menegang kencang.

“Ayo cewek, sepong kontol gue dong!”.

Belum sempat menolak, Abdul langsung memegang kepala Marina dan memaksa memasukkan penisnya ke dalam mulut dosen cantik tersebut.

“Hhhhmm..!”, usaha Abdul berhasil. Batang penisnya kini telah menyumpal mulut Marina. Langsung saja setelah itu si penjaga kolam mengocok mulut wanita cantik tersebut.

Di belakang Imron terkekeh melihat Abdul nampak kesetanan mengocok mulut Marina. Ia sendiri lalu meremas-remas pantat sekal Marina. Bongkahan pantat mulus itu terasa begitu kenyal dan padat. Imron pun mempersiapkan kembali batang penisnya dan mengarahkannya ke pantat Marina. Ya memang saat ini, Imron sedang berusaha memasukkan batang penisnya ke dalam anus dosen cantik tersebut.

“Hhhhhmmmm…!!!”, Marinaberteriak tertahan dengan kencang.

Dosen cantik itu merasakan sakit yang teramat sangat ketika merasakan penis Imron menyeruak masuk ke dalam anusnya. Memang ini bukan pertama kali anusnya dimasuki penis, namun karena dirinya sama sekali tidak siap hujaman penis Imron benar-benar terasa di sekujur saraf tubuhnya. Marina sampai harus memejamkan mata dan memegang erat kaki Abdul, untuk mengalihkan rasa sakit yang menderanya.

“Hhhhmmm… hhhmm… hhhmmm…”, teriakan demi teriakan tertahan Marina semakin sering terdengar seiring genjotan yang semakin kencang pada anusnya. Abdul pun nampak tidak tega melihatnya dan akhirnya memutuskan melepaskan batang penisnya dari dalam mulut dosen cantik tersebut.

“Aaaakkhhh…!!”, teriakan lantang langsung terdengar dari mulut Marina.

“Aaakkhhh… akkhh… aaakhh…”, tubuh Marina semakin berguncang hebat.

Namun setelah beberapa lama teriakan Marina mulai terdengar menurun. Agaknya anus wanita cantik tersebut sudah mulai bisa menyesuaikan diri terhadap lesakan penis Imron. Kini ia pun sudah mulai nampak bisa menikmati penetrasi penis Imron di anusnya. Melihat hal tersebut Abdul kembali mendekati Marina, kali ini dari samping. Tangannya mulai nakal merabai puting dan payudara montok Marina. Dosen cantik itu terlihat membiarkan saja aksi Abdul.

“Ron, gue juga mau dong ngerasain pantat cewek ni”, ucap Abdul sambil tetap memilin-milin puting Marina.

“Ntar dulu dong Dul, masih asyik nih”.

“Peret ya Ron?”, di wajah Abdul tergambar sekali ekspresi kemupengan.

“Iyalah, ni pantat kan jarang dipake”, Imron nampak memincingkan matanya. Mungkin ini akibat jepitan dubur Marina yang masih terasa sedemikian sempit.

“Tukeran dong Ron”, rengek Abdul lagi setelah beberapa menit.

“Ya udah lu pantatnya, gue memeknya deh”.

Imron pun menarik penisnya dari dalam anus Marina. Ia lalu kembali menggendong tubuh wanita cantik tersebut dari dalam kolam. Kemudian penjaga kampus mesum itu membaringkan tubuh Marina yang masih terlihat basah di lantai. Marina kembali hanya terlihat pasrah. Entah hal ini karena tenaganya yang telah terkuras atau karena belitan nafsu yang kini menderanya.

“Eh perek, sekarang lu goyang di atas gue”.

Marina yang sebelumnya tergolek di lantai dengan masih dalam keadaan lemas menuruti perkataan Imron. Laki-laki itu sendiri kini terlihat membaringkan tubuhnya di lantai ruangan. Marina kemudian berdiri mengangkang di atas tubuh Imron. Lalu wanita cantik itu mengambil batang penis Imron dan mengarahkannya ke dalam vaginanya. “Bless!”, batang tegang besar itu pun amblas ke dalam vaginanya. Marina hanya nampak sedikit meringis, setelah itu ia pun mulai menggoyangkan pinggulnya. Imron yang terbaring di lantai memejamkan matanya seolah-olah ingin meresapi benar kenikmatan yang ditimbulkan ketika Marina mulai menggoyangkan pinggulnya.

“Ooohh… goyang terus!”.

Marina pun semakin mengencangkan intensitas goyangannya.

“Eh cewek, nungging dikit, gue pengen ngocok pantat lu nih”.

Dosen cantik itu mengerutkan keningnya. Seenaknya saja laki-laki rendahan seperti dirinya memerintah wanita terhormat seperti dirinya. Jika saja saat ini ia memiliki kekuasaan maka sudah ditamparnya mulut si Abdul. Namun Marina tahu benar saat ini ia tidak bisa menolak, karena Imron masih ada disini. Maka wanita cantik itu pun menurutdan merundukkan tubuhnya sampai kedua payudaranya menempel di dada Imron.

“Aaakkh… kembali Marina harus merasakan kelasakan penis di dalam anusnya. Kali ini ia hanya mendesah karena sebelumnya ia telah siap menerima serangan Abdul tersebut.

Kini Marina pun harus merasakan dua batang penis mengocok kedua lubang kenikmatan di tubuhnya ini secara bersamaan. Dari bawah Imron mengocok vaginanya, sedangkan dari atas Abdul dengan ganas mengocok anusnya. Hal ini membawa sensasi tersendiri bagi Marina, sehingga birahinya semakin terpacu untuk naik dengan cepat.

“Aaakkh…”.

“Ooohh… aaahh…. oooohhh..”.

“Uuh… aakhhh…”.

Suara desahan, lenguhan dan teriakan dari ketiganya terdengar menggema memenuhi seluruh ruangan kolam tersebut. Ketiganya semakin didera nafsu karena masing-masing menikmati kenikmatan atas apa yang terjadi. Abdul merasakan sensasi baru jepitan anus seorang dosen cantik, Imron merasakan kembali jepitan vagina Marina yang sudah lama tidak ia rasakan, sedangkan Marina sendiri merasakan sensasi luar biasa ketika digenjoti oleh dua laki-laki secara bersamaan. Sehingga hanya dalam beberapa menit kemudian, ketiganya merasakan kalau di dalam diri mereka masing-masing akan mencapai klimaks permainan.

“Aaaakkh….!!!”, diawali dari Marina yang terlebih dahulu berteriak panjang, menandakan pencapaian klimaksnya yang kedua.

Kemudian disusul oleh Abdul yang juga mencapai klimaksnya yang kedua, “Oooohh…!!!”.

“Aaakkh…!!!”, dan beberapa saat kemudian giliran Imron yang merasakan sensasi puncak permainan yang sama.

“Crooot… crooot… crooot…”, semburan demi semburan cairan sperma menyemprot kencang ke dalam vagina dan anus Marina.

Marina sendiri mungkin belum sadar akan hal itu akibat deraan sensasi klimaks keduanya. Namun yang jelas kini cairan putih kental kini nampak meleleh pada vagina dan anusnya seiring mengecilnya batang-batang penis yang mengganjal di dalamnya. Ketiganya pun kemudian terbaring dengan nafas memburu di lantai ruangan. Beberapa menit setelah pencapaian klimaks berbarengan tersebut, Imron yang paling dahulu terlihat berdiri dan mulai bisa mengatur detak nafasnya. Imron melihat Marina dan Abdul masih tergolek di lantai walaupun keduanya kini tidak lagi nampak ngos-ngosan. Tak lama Abdul menyusul untuk bangkit dari lantai dan mengambil posisi duduk. Imron kemudian mendekati Marina dan berjongkok di sampingnya. Ia lalu membantu dosen cantik itu untuk bangkit dari lantai.

“Gimana Bu? Enak kan main keroyokan lagi? Hehehe…”, kini Imron kembali memanggil Marina dengan sebutan Ibu, tidak lagi “perek” sebagaimana saat mereka sedang bersetubuh tadi.

Wajah Marina terlihat memerah dan ia hanya mengangguk pelan.

“Hehehe… kalau gitu kapan-kapan kita main keroyokan lagi deh, abis Ibu keliatannya doyan banget digenjot banyak kontol”.

“Apaan sih Pak!”, rupanya kesadaran Marina sudah pulih untuk meyadari kalau kata-kata Imron tadi sama sekali tidak enak untuk didengar.

Marina pun lalu segera berdiri dan bergegas mengumpulkan satu per satu pakaiannya yang tergeletak di lantai ruangan. Sedangkan Imron terlihat cengengesan sambil beranjak berdiri.

“Kok buru-buru amat sih Bu? Emang nggak mau nambah? Kita-kita masih kuat kok hahaha…”, ucap Imron lagi.

Marina yang sedang mengambil tas jinjingnya merasa benar-benar terlecehkan, walaupun jauh di dalam hatinya ia harus mengakui kalau dirinya menikmati apa yang baru saja ia alami tadi.

“Ini sudah malam!”, bentak Marina. Wanita cantik itu lalu mendekati Imron, “Sekarang tolong kembalikan pakaian dalam saya!”.

“Bukan saya yang bawa, Abdul tuh!”.

Marina pun melengos memalingkan wajahnya dari Imron dan berjalan mendekati Abdul yang masih terduduk di lantai dalam keadaan telanjang.

“Mana pakaian dalam saya?”.

Abdul pun berdiri kemudian berjalan menuju tumpukan pakaiannya. Marina berjalan mengikutinya. Laki-laki penjaga kolam itu kemudian berjongkok dan mengambil celana pendeknya. Dari dalam kantong celana pendeknya tersebut, ia kemudian mengeluarkan sebuah bra dan celana dalam berwarna krem yang adalah merupakan milik Marina. Laki-laki berwajah sangar itu pun menyerahkan kedua potong pakaian dalam tersebut kepada pemiliknya.

“Iiihh… kok basah gini sih Pak?”.

“Hehehe… iya maaf Bu, tadi sambil nunggu Ibu disini bra ama celana dalamnya saya pake coli”, ucap Abdul polos sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Jorok banget sih!”, bentak Marina.

“Udah Bu, di bawa pulang aja, itung-itung bonus pejuhnya Abdul hahaha…”.

Marina kesal sekali melihat pakaian dalamnya yang dipegangnya ini ternyata basah oleh sperma laki-laki. Dosen itu kemudian mengambil sebuah plastik kecil dari dalam tas jinjingnya dan memasukkan pakaian dalamnya. Ingin sebenarnya ia membuang bra dan celana dalamnya tersebut yang telah “terkontaminasi” oleh cairan sperma, namun ia membatalkannya karena bagaimanapun kedua pakaian dalam itu ia beli dengan harga yang relatif mahal. Kemudian Marina pun mengenakan kembali rok span dan kemejanya kembali minus pakaian dalamnya. Selama proses mengenakan pakaiannya tersebut Marina cukup risih karena melihat tatapan nanar kedua laki-laki mesum yang berdiri di dekatnya. Namun ia cuek saja toh bukankah kedua laki-laki itu tidak hanya melihat sudah melihat seluruh tubuhnya, tapi juga merasakan kehangatannya. Selesai memakai pakaiannya Marina langsung berjalan dengan cepat, seakan berusaha secepat mungkin meninggal ruangan tempatnya merengkuh kenikmatan tersebut. Dosen cantik itu pergi tanpa mengatakan apapun kepada Imron dan Abdul, karena selain tidak penting, ia juga tidak ingin membuat kedua laki-laki mesum itu besar kepala. Tak lama Marina pun hilang dari balik pintu ruangan kolam kampus tersebut. Sedangkan Imron dan Abdul hanya saling memandang dan saling melemparkan senyuman mesum. Keduanya pun kembali mengenakan pakaiannya masing-masing kemudian keluar dari dalam ruangan tersebut dengan penuh kepuasan.